d. Peristiwa
Osmotik Dalam Kehidupan Sehari-Hari
Suatu larutan encer dapat menimbulkan tekanan osmotik yang sangat besar.
Contoh, larutan 1 molar pada suhu 0°C menimbulkan tekanan osmotik
22,4 atm. Tekanan yang sangat besar itu mampu mengangkat raksa dalam kolom
manometer setinggi 17 meter. Seandainya raksa ini diganti oleh air, maka air
akan naik setinggi 230 meter atau dua kali tinggi Tugu Monas! Tekanan osmotik
inilah yang memungkinkan air dan larutan lain dari dalam tanah dapat mencapai
pucuk pepohonan yang tinggi, sebab larutan dalam sel tumbuh-tumbuhan memiliki
tekanan osmotik 40 – 50 atmosfer.
Peristiwa osmotik yang paling penting adalah osmotik yang terdapat dalam
makhluk hidup. Misalnya, tekanan osmotik pada sel darah merah. Tebal sel darah
merah lebih kurang 10 nm dan diameter porinya 0,8 nm. Molekul air berukuran
lebih kurang setengah diameter pori sel darah merah. Ion K+ yang ada
dalam sel darah merah juga berukuran lebih kecil daripada diameter pori dinding
sel. Akan tetapi, ion K+ditolak oleh dinding sel karena dinding sel
juga bermuatan positif. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa partikel yang
dapat melewati selaput semipermeabel harus berukuran lebih kecil daripada pori
selaput dan bermuatan listrik tidak sama dengan selaput.
Di rumah
sakit, larutan infus yang dimasukkan
ke dalam tubuh pasien melalui pembuluh darah haruslah bersifat isotonis (memiliki tekanan osmotik sama) dengan
sel-sel darah. Jika larutan infus itu hipertonis (tekanan osmotiknya lebih tinggi), maka
terjadi krenasi (air keluar dari sel darah), sehingga sel
mengkerut dan rusak. Sebaliknya, jika larutan infus itu hipotonis (tekanan osmotiknya lebih rendah), maka
terjadi hemolisis (air masuk kedalam sel) yang menyebabkan sel
mengelembung dan pecah. Jadi, jika sel darah merah diletakkan di dalam suatu
larutan, akan terjadi tiga kemungkinan berikut.
1.
Sel darah merah tidak mengalami perubahan jika dimasukkan ke dalam
larutan isotonik.
2.
Sel darah merah akan mengerut jika dimasukkan ke dalam larutan
hipertonik.
3.
Sel darah merah menjadi mengelembung jika dimasukkan kedalam larutan
hipertonik. Pengelembungan itu terjadi karena air dari larutan masuk ke dalam
sel darah merah.
|
Warta Kimia |
|
Cuci
Darah
Ginjal merupakan organ tubuh yang memiliki banyak
fungsi, antara lain menyaring darah, membuang zat-zat yang tidak berguna
bagi tubuh, mempertahankan volume dan tekanan darah, mengatur kadar kalsium
pada tulang, mengatur produksi sel darah merah, dan menghasilkan beberapa
hormon penting bagi metabolisme
tubuh. Oleh karena itu, kerusakan ginjal dapat mengganggu metabolism tubuh. Gagal ginjal merupakan kelainan karena ginjal tidak
dapat menjalankan fungsinya. Salah satu teknologi yang digunakan untuk
menggantikan fungsi ginjal ialah cuci darah (hemodialisis). Saat proses cuci darah (hemodialisis) berlansung, ada larutan
dialisis dalam alat unit dialisis. Di dalam alat unit dialisis terdapat
membran semipermeabel yang memisahkan darah dari larutan dialisis. Zat-zat
pengotor dari darah berpindah melalui membran semipermeabel kelarutan
dialisis yang lebih encer. Sedangkan, darah tidak ikut berpindah.
Konsentrasi ion dalam larutan dialisis sama dengan konsentrasi pada darah
normal sehingga jika konsentrasi darah dari pasien telah setimbang, tekanan
osmotik menghentikan aliran zat terlarut ke dalam dialisis. |
Comments
Post a Comment