2. Sifat Koligatif Larutan Elektrolit
Sifat koligatif yang sudah
dibicarakan ialah sifat koligatif larutan untuk larutan nonelektrolit dengan
zat terlarut dalam bentuk molekul, artinya tidak mengalami ionisasi. Sedangkan,
pada larutan elektrolit, zat terlarutnya mengalami ionisasi.
Jumlah partikel zat terlarut dalam
larutan elektrolit tidak sama dengan larutan nonelektrolit. Contoh larutan
elektrolit adalah larutan NaCl, sedangkan larutan nonelektrolit adalah larutan
urea. Berdasarkan hasil eksperimen, penurunan titik beku larutan NaCl 0,01
molal adalah 0,0359 °C, sedangkan penurunan titik beku larutan urea
pada konsentrasi yang sama adalah 0,0186 °C. Jika keduanya
dibandingkan, nilai penurunan titik beku larutan NaCl adalah 1,93 (hampir dua
kali penurunan titik beku larutan urea). Perbandingan antara nilai sifat
koligatif larutan elektrolit dan nilai sifat koligatif larutan nonelektrolit
disebut faktor van’t Hoff yang
dilambangkan dengan huruf i. Nilai i bergantung pada jenis zat dan konsentrasinya.
Nilai i untuk beberapa larutan
elektrolit disajikan dalam Tabel
1.4.
Tabel 1.4 Nilai i Untuk Penurunan Titik Beku Beberapa Larutan Elektrolit
|
Larutan |
0,10 m |
0,01 m |
0,005 m |
|
Elektrolit
Tipe Ion NaCl KCl MgSO4 K2SO4 Elektrolit
Tipe Kovalen HCl CH3COOH H2SO4 |
1,87 1,86 1,42 2,46 1,91 1,01 2,22 |
1,93 1,94 1,62 2,77 1,97 1,05 2,59 |
1,94 1,96 1,69 2,86 1,99 1,06 2,72 |
Sumber: Keenan (1), 1990: 444 – 445
Zat
elektrolit memiliki jumlah partikel lebih banyak daripada larutan
nonelektrolit. Pada awal bab ini, telah Anda pelajari bahwa sifat koligatif
bergantung pada konsentrasi partikel zat terlarut dan tidak bergantung pada
jenisnya. Partikel itu dapat berupa molekul, atom, atau ion.
Dalam larutan
elektrolit, zat terlarut terurai sebagian atau seluruhnya menjadi ion-ion.
Itulah sebabnya larutan elektrolit memiliki jumlah partikel yang lebih banyak
daripada larutan nonelektrolit.
Di kelas X,Anda telah
mempelajari bahwa 1 mol zat mengandung 6,02 x 1023 partikel. Oleh
karena itu, tiap mol zat nonelektrolit terdiri atas 6,02 x 1023
partikel. Sementara itu, zat elektrolit ionik seperti NaCl atau KCl terdiri
atas satu mol ion positif ( Na+ atau K+) dan satu mol ion
negatif (Cl-). Adapun elektrolit seperti K2SO4 terdiri
atas dua mol ion positif (K+) dan satu mol ion negatif (SO42-).
Berdasarkan hal itu, dapat diperkirakan bahwa larutan NaCl dan KCl mempunyai
titik beku dan kenaikan titik didih dua kali lebih besar daripada larutan
nonelektrolit, misalnya urea, karena memiliki i = 2. Adapun penurunan titik beku dan kenaikan titik didih larutan
K2SO4 tiga kali lebih besar daripada larutan urea karena
memiliki i = 3. Nilai i yang ditentukan dengan cara seperti
itu biasa disebut nilai secara
teoritis. Namun, kenyataannya tidak demikian. Nilai i larutan elektrolit selalu lebih kecil
daripada nilai teoritis. Hal itu disebabkan antara ion positif dan ion negatif
terjadi gaya tarik-menarik sehingga tidak ada ion yang benar-benar bebas. Jika
konsentrasi makin kecil, jarak antarion makin besar. Oleh karena itu, makin
encer suatu larutan, nilai i –nya
makin mendekati nilai teoritis.
Nilai
i untuk elektrolit tipe kovalen
bergantung pada jenisnya. Untuk elektrolit lemah, nilai i mendekati satu, sedangkan elektrolit kuat nilai i – nya mendekati nilai teoritisnya.
Hubungan antara nilai i dan derajat
ionisasi (persen ionisasi) dapat dijelaskan sebagai berikut. Misalnya,
konsentrasi larutan a molar dan
derajat ionisasi adalah α, sehingga jumlah elektrolit yang terionisasi adalah aα.
Jumlah yang terionisasi α
= ------------------------------------ Jumlah mula-mula
Jumlah elektrolit yang terionisasi = jumlah
mula-mula x α
= aα
Seandainya
tiap molekul elektrolit membentuk n
ion, jumlah elektrolit yang terionisasi naα.
Oleh karena itu, jumlah elektrolit yang tidak terionisasi adalah a – aα.
Pernyataan itu dapat dijelaskan dengan persamaan reaksi berikut.
Mula-mula : a
Ionisasi :
aα
Setimbang : a – aα
Jumlah partikel dalam kesetimbangan
= jumlah partikel elektrolit (A) +
jumlah ion (B)
= a – aα
+ naα
= a [1 + (n – 1)α]
Berdasarkan
penjelasan di atas, penambahan jumlah partikel dalam larutan elektrolit adalah
[1 + (n – 1)α].[1 + (n – 1)α] inilah yang sebenarnya
merupakan nilai faktor dari van’t Hoff. Dengan demikian, pertambahan sifat
koligatif larutan elektrolit dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut.
∆P
= xA x P°
x i
∆Tb = Kb
x m x i
∆Tf = Kf
x m x i
π = MRT x i
i = 1 + (n
– 1)α
Comments
Post a Comment