Banyaknya ion H+ yang
dilepaskan oleh larutan asam dalam air dapat berjumlah satu, dua, atau lebih.
Asam yang menghasilkan satu ion H+ disebut asam monoprotik atau
bervalensi satu. Asam yang menghasilkan dua ion
H+ disebut asam diprotik atau asam bervalensi dua.
Perlu
diingat bahwa yang menyebabkan sifat asam adalah
ion H+.
Oleh karena itu, senyawa seperti etanol (C2H5OH), glukosa
(C6H12O6),
atau gula pasir (C12H22O11), meskipun
mengandung
atom hidrogen, tidaklah bersifat asam,
sebab mereka tidak dapat
melepaskan ion H+ tatkala
dilarutkan ke dalam air.
Beberapa
oksida bukan logam mempunyai sifat
asam, sebab
mereka dapat bereaksi dengan air
menghasilkan ion H+. Oksida semacam ini disebut oksida asam.
Contoh: CO2 + H2O → H2CO3
SO2 + H2O → H2SO3
SO3 + H2O →
H2SO4
N2O3
+ H2O → 2HNO2
N2O5
+ H2O → 2HNO3
P2O3 + 3H2O → 2H3PO3
P2O5
+ 3H2O → 2H3PO4
Atmosfer kita secara alami selalu mengandung oksida asam. Letusan gunung berapi akan membuang gas SO2 dan SO3 ke udara, sedangkan pembakaran hutan dan pernafasan manusia atau hewan akan melepaskan gas CO2. Ketika terjadi petir, energi listrik yang timbul menyebabkan reaksi N2 dan gas O2 di udara untuk membentuk gas N2O3 dan N2O5. Oksida asam ini bereaksi dengan air hujan menghasilkan asam. Itulah sebabnya air hujan agak besifat asam.
Di
zaman modern ini, pemakaian bahan bakar minyak bumi menyebabkan jumlah oksida
asam di udara meningkat pesat, terutama gas CO2, SO2, dan
SO3, sehingga menimbulkan berbagai pencemaran lingkungan seperti
hujan asam dan meningkatnya suhu permukaan bumi. Untuk menanggulangi masalah
ini, pemahaman terhadap sifat asam mutlak diperlukan.
Referensi:
- Anshory, I. 2000. KIMIA SMU Kelas II. Jakarta. Penerbit : Erlangga
- Susilowati,
E. 2007. SAINS KIMIA Prinsip Dan
Terapannya Untuk Kelas XI SMA dan MA. Solo :
Penerbit PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Comments
Post a Comment