6. Minyak Solar (Titik Didih 270 Sampai Dengan 350 Derajat Selsius)

           Gambar 2.15 Salah Satu Bentuk Pompa Minyak Diesel Di Negara Erofa

Solar merupakan hasil olahan minyak bumi yang berguna sebagai bahan bakar utama mesin diesel. Hasil olahan ini memiliki titik didih yang lebih tinggi dari avtur. Minyak solar banyak digunakan sebagai bahan bakar industri, yaitu sebagai bahan bakar mesin diesel. Sebagai minyak gas, minyak solar banyak digunakan dalam pembuatan gas kota, yang didistribusikan ke rumah-rumah untuk bahan bakar dapur. Kendaraan dengan penggerak mesin membutuhkan bahan bakar minyak seperti solar, bensin, dan avtur. Bahan bakar tersebut berasal dari minyak bumi, sebuah sumber daya yang tidak dapat diperbarui. Melihat hal tersebut, beragam bahan bakar dan energi alternatif diciptakan oleh manusia, salah satunya biosolar. Perbedaan utama antara solar dan bio solar terletak pada bahan pembuatan serta kandungan-nya.

Bakar bakar solar berasal dari fosil, maka biosolar berasal dari tanaman atau bahan nabati. Menggunakan tanaman yang mudah ditemukan dan dibudidayakan, sangat wajar jika banyak pihak meyakini biosolar merupakan solusi tepat untuk menggantikan peran bahan bakar fosil di masa mendatang.

Gambar 2.16 Bentuk Mesin Diesel Pada Kendaraan

Lantas apa itu biosolar? Apa saja perbedaan solar dan biosolar? Dan bagaimana energi alternatif ini bisa berperan sebagai energi alternatif, akan dibahas secara seksama

 


A.      Apa Itu Biosolar?

Dalam bahasa Inggris Biosolar berarti Biodiesel. Pengertian Bio solar adalah bahan bakar minyak alternatif yang tercipta dari tumbuhan. Para ilmuwan energi percaya bahwa biosolar merupakan energi alternatif terbaik sebagai sumber energi transportasi utama dunia di kemudian hari. 

Bio solar merupakan kandidat terbaik untuk menggantikan bahan bakar minyak bumi yang berasal dari fosil. Tidak seperti minyak sayur, yang sama-sama berasal dari tumbuhan, biosolar melalui proses pengolahan dengan cara yang berbeda. Dari cara pengolahan dan bahan yang berbeda inilah bahan bakar ini memiliki sifat pembakaran yang mirip dengan solar (diesel) sehingga dapat kita yakini bahwa biosolar dapat menggantikanya dalam banyak kasus.

 

B.       Bahan Pembuatan Biosolar

Dari penjabaran pengertian biosolar di atas, kita dapat memahami bahwa biosolar terbuat dari tumbuhan atau bahan nabati. Lebih spesifik, bahan nabati terkait adalah berupa buah atau biji tanaman. Berikut merupakan daftar buah atau biji tanaman yang dapat diolah sebagai biosolar, antara lain:

§  Biji kapuk atau biji pohon randu

§  Kacang tanah

§  Nyamplung

§  Buah kemiri

§  Biji jarak pagar.

Tanaman-tanaman tersebut adalah contoh dari tanaman yang dapat dengan mudah kita tanam dan tumbuh di sekitar kita. Oleh sebab itu, dengan memperhatikan kemungkinan ketersediaanya, biosolar termasuk dalam kategori sebagai energi alternatif terbarukan untuk menggantikan penggunaan solar. Selain bahan nabati atau tumbuhan yang sudah ada di atas, minyak kelapa sawit juga saat ini sedang menjadi pembicaraan hangat dalam penerapanya sebagai energi alternatif untuk bahan bakar pesawat atau Avtur. 

 

C.      Perbedaan Solar Dan Biosolar

Penjelasan paling sederhana dalam menjelaskan perbedaan solar dan bio solar adalah dari bahan dasar pembuatanya. Solar atau yang dalam bahasa inggris yaitudiesel, terbuat dari bahan dasar fosil (minyak bumi). Sedangkan Biosolar terbuat dari bahan dasar yang berasal dari tumbuhan. Lebih lanjut mengenai perbedaan yang ada antara keduanya, berikut merupakan perbedaan-perbedaan lain yang perlu anda ketahui:

 

1. Kandungan Energi

Terbuat dengan ragam bahan yang sangat berbeda, mengakibatkan kandungan energi dari keduanya memiliki perbedaan. Karena tercipta dari tumbuhan, bio solar memiliki kandungan energi yang lebih kecil daripada solar. Dengan perbandingan 11% bisa dipastikan bahwa kandungan energi dalam solar lebih banyak. Namun, tetap saja usaha untuk menciptakan olahan biosolar terbaik masih terus dikembangkan untuk meningkatkan kandungan energinya.

 

2. Kadar Sulfur

Belerang atau sulfur adalah unsur non-logam berbentuk zat padat kristalin kuning yang tidak berasa. Sulfur merupakan unsur penting untuk menciptakan pembakaran. Sulfur banyak digunakan sebagai campuran dalam penggunaan bubuk mesiu dan korek api. Dalam biosolar kandungan kadar sulfur jauh lebih rendah dari kadar sulfur pada solar. Hal ini membuktikan sekaligus menyebabkan bio solar memiliki kandungan energi eksplosif yang lebih rendah dari solar. Namun, karena kandungan sulfurnya lebih rendah, biosolar cenderung lebih ramah lingkungan karena kadar sulfur yang rendah menghasilkan sedikit karbondioksida. Berbeda dengan solar yang memiliki kadar sulfur yang tinggi, maka solar menghasilkan banyak karbondioksida. Oleh, sebab itu solar tergolong sebagai salah satu penyebab polusi udara. 

 

3. Kekuatan Proses Oksidasi

Proses oksidasi adalah lepasnya elektron dalam sebuah molekul karena pengikatanya dengan oksigen. Dalam pengolahan bahan bakar, oksidasi berperan dalam menciptakan sumber energi untuk melakukan pembakaran. Dikarenakan biosolar memilki kadar sulfur yang jauh lebih rendah, maka proses oksidasi dalam biosolar pun cenderung lemah. Tidak hanya itu, proses oksidasi yang lemah juga cenderung dapat mengakibatkan penyumbatan pada bagian-bagian mesin.

Sebagai energi alternatif, biosolar tidak sepenuhnya sempurna sebagai bahan bakar utama. Oleh sebab itu ia disebut sebagai sumber energi alternatif ataupun cadangan/pengganti. Dibalik kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh biosolar, sumber energi alternatif ini memiliki potensi yang cukup kuat untuk terus dikembangkan. Dalam beberapa tahun kedepan, kebutuhan manusia akan minyak bumi semakin bertambah sedangkan ketersediaan minyak bumi semakin menipis. Oleh sebab itu pengembangan dan penggunaan biosolar dinilai sangat penting bagi kehidupan manusia di masa yang akan datang. 

 

D.      Mengenal Biosolar B30

Pemerintah menginisiasi biosolar B30 sebagai program pengadaan energi alternatif bahan bakar solar. Bio solar B30 merupakan hasil pencampuran solar dengan minyak nabati yang berasal dari minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO). Bahan bakar ini memiliki komposisi perbandingan 30% bahan nabati dan 70% bahan solar. 

Sebelum bercampur dengan solar, minyak kelapa sawit bereaksi terlebih dahulu dengan metanol (NH4OH) dan etanol (C2H5OH) dengan katalisator NaOH atau KOH untuk menghasilkan fatty acid methyl ester (FAME). FAME adalah proses transesterifikasi lipid dengan tujuan untuk mengubah minyak dasar menjadi ester sekaligus membuang asam lemak bebas. Menurut WCO (World Customs Organization), FAME merupakan campuran mono-alkil dari produksi biodiesel senyawa ester rantai panjang asam lemak yang berasal dari tumbuhan atau hewan.

Selain terbarukan, FAME juga biodegradable sehingga ramah lingkungan. Selain itu, jelaga hasil pembakarannya lebih rendah dari pada solar dan juga angka cetane yang lebih tinggi dari pada petroleum solar. Biosolar B30 juga memiliki kandungan energi yang hampir sama dengan energi solar (diesel). 

 “Program ini akan diberlakukan mulai Januari 2020 sesuai Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 12 tahun 2015 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri ESDM nomor 32 tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain.”

 

E.       Tujuan Pemakaian Bio Solar B30

Dengan adanya aturan pemerintah terkait produksi dan penggunaan Bio solar B30 ini, maka tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan ketahanan dan kemandirian sumber daya energi yang ada di Indonesia, sekaligus juga bertujuan untuk mengangkat nilai jual industri kelapa sawit. 

Tidak hanya itu, dengan menggunakan bahan nabati, Bio solar B30 menghasilkan pembuangan yang relatif lebih bersih sehingga dapat mengurangi emisi karbon. Sebagai tambahan, unsur FAME yang bersifat detergency mampu membersihkan mesin-mesin kendaraan dengan lebih baik daripada bahan bakar BBM.

 

F.       Jenis-Jenis Lain Bio-solar B30

Selain Biosolar B30 yang wacananya akan segera produksi, terdapat jenis-jenis biosolar lain yang juga melalui proses pengembangan sebagai pilihan sumber energi alternatif, antara lain:

 

§  Bio Solar B20

Campuran bahan nabati dengan bahan solar dengan komposisi 20% nabati – 80% solar

 

§  Bio Solar B50

Campuran bahan nabati dengan bahan solar dengan komposisi 50% nabati – 50% solar

 

 

7.    Residu (Titik Didih 350 Sampai Dengan 525 Derajat Selsius) 

Residu adalah senyawa hidrokarbon dengan jumlah atom karbon lebih dari 20. Fraksi ini pada suhu kamar berupa padatan, misalnya lilin dan aspal. Jenis residu hasil distilasi bergantung pada jenis minyak tanahnya. Ada minyak mentah yang menghasilkan paraffin padat sebagai residunya.


       vvvvvv

Gambar 2.17 Pabrik Pengolahan Minyak Bumi Menghasilkan Produk Dan Residu

Secara umum, pengolahan bahan baku dengan teknologi proses akan menghasilkan produk dan residu. Begitu juga dengan pengolahan minyak bumi yang menghasilkan residu minyak bumi.

Residu secara luas dapat berarti senyawa kimia hasil limbah yang merupakan sisa dari proses bahan baku menjadi berbagai produk. Residu dalam hasil olahan minyak bumi sedikit berbeda dengan residu yang berasal dari senyawa kimia organik. Suharto dalam bukunya yang berjudul Bioteknologi dalam Bahan Bakar Non Fosil mengatakan bahwa residu yang tidak melalui pengolahan lanjut tidak memiliki nilai ekonomi, nilai sosial, dan nilai lingkungan. Residu itu pada akhirnya akan menjadi limbah (waste).

Lalu, apa sebenarnya residu dalam hasil olahan minyak bumi itu? Bagaimana nilai residu itu? Apa saja kegunaan residu itu? Agar Anda lebih memahami dan mengetahui tentang residu dalam hasil olahan minyak bumi, mari simak penjelasan di bawah ini.

 

A.      Apa Itu Residu Dalam Hasil Olahan Minyak Bumi?

Dalam proses pengolahan minyak bumi, residu (hasil pengolahan) adalah fraksi kelima atau fraksi paling bawah yang berisi hidrokarbon rantai panjang dengan titik didih paling tinggi. Residu minyak bumi adalah produk samping atau produk sisa kilang minyak yang murah dan belum dimanfaatkan secara maksimal.

Jenis minyak dan jenis proses pemurnian (refinery) mempengaruhi komposisi residu. Setiap minyak mentah akan menghasilkan jumlah residu dan sifat residu yang berbeda. Titik didih residu berkisar >510 derajat celcius atau >950 derajat fahrenheit.

Pada kilang minyak, minyak mentah (crude oil) dimasukkan ke dalam kolom distilasi atmosferik sehingga akan menghasilkan beberapa fraksi minyak bumi dengan rentang titik didih yang berbeda. Totalnya ada lima fraksi dengan urutan titik didih paling rendah sampai yang paling tinggi.

Fraksi atas dapat bermanfaat sebagai bahan bakar, sedangkan fraksi bawah yang berupa residu harus melalui pengolahan lebih lanjut pada tahap kedua agar menjadi berbagai senyawa karbon lainnya, aspal dan lilin. Biasanya, residu dijual dengan harga yang sangat murah.

Residu mengandung komponen naftenik, aromatik, dan hidrokarbon tak jenuh. Dalam pengolahan petroleum, residu berbentuk cair. Pada suhu kamar, yakni antara 20 sampai dengan 30 derajat selsius, umumnya residu itu berbentuk padat. 

Dengan pengolahan lebih lanjut, residu petroleum masih dapat berguna dalam industri Petrokimia. Residu dapat menjadi beberapa jenis bahan baku yang bermanfaat dalam kehidupan manusia. Pada bagian selanjutnya, kami akan mengulas beberapa bentuk hasil pemanfaatan dari residu olahan minyak bumi.

 

B.       Penggunaan Residu Minyak Bumi

Setelah pengolahan lanjutan, residu dalam pengolahan minyak bumi pada nyatanya masih dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan manusia, ada empat jenis residu hasil pengolahan minyak bumi yang berguna, yaitu aspal, oli (pelumas), dan malam (petroleum wax).

Berikut uraian mengenai aspal, oli (pelumas), dan malam (petroleum wax) agar Anda lebih lanjut mengetahui mengenai keempat residu yang berguna dalam kehidupan manusia ini.

 

1. Aspal

Salah satu residu minyak bumi yang paling banyak berguna dalam kehidupan sehari-hari adalah aspal. Ketika minyak bumi pertama kali masuk ke dalam menara distilasi dan dipanaskan pada suhu lebih dari 500 derajat selsius, minyak bumi akan membentuk aspal.

Fraksi minyak bumi yang memiliki titik didih di bawah  500 derajat selsius akan menguap ke atas menara distilasi dan mengalami pemanasan kembali. Sebaliknya, fraksi yang memiliki titik didih di atas 500 derajat selsius akan berkumpul menjadi residu. 

Residu itulah yang kemudian mengalami pemrosesan lanjutan menjadi aspal. Aspal berguna sebagai penghalus jalan. Selain berguna sebagai bahan pengeras jalan raya, aspal juga berguna untuk melapisi kebocoran atap, pipa, dan batu baterai.

Aspal merupakan bitumen setengah padatan berwarna hitam pekat. Bitumen itu terdiri atas partikel kolbim aspalten yang terdispersi dalam resin dan konstituen minyak. Aspalten akan pisah dari resin dan konstituen minyak melalui cara pelarutan dalam nafta. 

Dalam pelarutan itu, hanya resin dan konstituen minyak yang larut. Aspalten tidak larut dalam nafta dan mengendap sebagai serbuk yang berwarna hitam. Serbuk hitam itulah yang disebut dengan aspal. Semakin tinggi titik didih yang minyak bumi, maka hasil dari olahan tersebut akan semakin bersifat lengket dan semakin tahan air atau tidak bisa tercampur dengan baik (memiliki tingkat adhesive yang semakin tinggi). Cairan yang dihasilkan pun ketika dalam keadaan dingin, akan mudah mengental dan membeku karena memiliki tingkat viskoelastis seperti karet. Oleh sebab itu, aspal berguna sebagai bahan utama pembuatan jalan raya.

Karakteristiknya yang elastis namun mampu merekatkan dengan erat dapat dengan baik menggabungkan susunan batu dalam jalan raya dan menghasilkan jalan yang aman bagi pengendara. Tidak hanya semakin adhesive, semakin tinggi titik didih juga semakin menghitamkan warna dari olahan minyak bumi sehingga aspal berwarna hitam pekat.  

Selain manfaat dari tiap fraksi minyak bumi, minyak bumi juga bermanfaat sebagai sumber bahan bakar panas dalam pembangkit listrik. Dalam perannya sebagai bahan bakar pembangkit listrik, minyak bumi berfungsi sebagai penghasil uap panas untuk menggerakkan turbin. 

 

2. Oli (Minyak Pelumas)

Minyak pelumas atau oli adalah bagian minyak mentah yang memiliki titik didih tinggi, tetapi di bawah aspal, sekitar 400 derajat ke atas. Oli adalah residu minyak bumi yang digunakan pada logam-logam mesin kendaraan agar tidak cepat aus.

Minyak pelumas terdiri atas senyawa hidrokarbon seperti alkana, sikloalkana, aromatik, dan sejumlah senyawa oksigen yang mengandung oksigen dan belerang. Fraksi minyak pelumas dapat dipisahkan dari residu lainnya dengan cara distilasi hampa.

Minyak pelumas berfungsi sebagai lapisan minyak antara dua permukaan yang saling bergesekan. Misalnya, pada mesin kendaraan bermotor. Dalam mesin itu, keberadaan minyak pelumas berguna untuk mengurangi panas hasil gesekan antara kedua permukaan mesin.

 

3. Malam (Petroleum Wax)

Malam (petroleum wax) merupakan residu proses perengkahan atau juga dari minyak mentah (crude oi). Kandungan jumlah atom C malam sekitar 20 sampai dengan 75 buah. 

Malam dapat dibagi menjadi dua, yaitu

§   malam parafin (paraffin wax) dan

§   malam kristal mikro (microcrystalline wax).

Malam parafin diperoleh dari distilasi parafin ringan, sedangkan malam kristal mikro dari distilasi parafin fraksi berat. Dua-duanya berbentuk padat.

Malam dalam industri dapat berguna sebagai bahan pelapis kemasan, lilin, semir, perekat bahan korek api, dan bahan kosmetik. Selain itu, malam juga berguna untuk kain batik, isolasi listrik, dan sebagai komponen dalam tinta cetak.

 

C.      Kesimpulan

Residu dalam pengolahan petroleum atau crude oil merupakan fraksi kelima yang berisi hidrokarbon rantai panjang dengan titik didih paling tinggi. Residu dalam pengolahan minyak bumi adalah produk samping atau produk sisa kilang minyak yang murah dan belum dimanfaatkan secara maksimal.

Dengan proses pengolahan lanjut, residu yang awalnya bernilai jual rendah dan tidak banyak berguna dapat menjadi hal yang bermanfaat. Dalam kehidupan manusia, ada tiga jenis residu hasil pengolahan minyak bumi yang berguna, yaitu aspal, oli (pelumas), dan malam (petroleum wax).

Ketiga jenis residu hasil pengolahan minyak bumi memiliki cirinya masing-masing. Selain itu, baik aspal, oli (pelumas), dan malam (petroleum wax) memiliki kegunaan dan fungsinya sendiri yang berbeda satu sama lain. 


Referensi:

- Pengertian, Bahan, Dan Jenis Bio Solar B 30. Tersedia di: https://solarindustri.com > blog

   Tanggal akses: 21 - 09 - 2022. Jam 9 : 55 WIB.


- Perbedaan Solar Dan Bio Solar Secara Umum. Tersedia di: https://solarindustri.com > blog.

   Tanggal akses : 21 - 09 - 2022. Jam 9 : 55 WIB.


- Residu Minyak Bumi : Pengertian, Fungsi Dan Manfaatnya. Tersedia di :                                                   https://solarindustri.com > blog. Tanggal akses : 21 - 09 - 2022. Jam 13 : 40 WIB.  

Comments

Popular posts from this blog