Tahayul Dalam Ilmu Kimia

Masyarakat primitif sangat lekat dengan hal-hal yang berbau tahayul. Mereka percaya bahwa hal-hal yang sulit masuk akal sebagai sesuatu yang sudah "ditakdirkan". Para ilmuwan pun tidak terlepas dari cara berpikir seperti itu. Dalam perkembangan ilmu kimia, kita menjumpai beberapa contoh. Salah satunya yaitu aturan oktet yang menyatakan bahwa senyawa akan bersifat stabil jika mempunyai elektron valensi delapan. Hal ini telah menghambat penelitian tentang kemungkinan gas mulia membentuk senyawa. Namun kemudian, Rampsay dari India telah berhasil membuat senyawa xenon.

Contoh lain yaitu pemahaman tentang sifat senyawa karbon. Pada awalnya, tidak satupun senyawa organik yang dapat disintesis di laboratorium, sehingga timbul suatu paham yang menganggap bahwa untuk menyintesis senyawa organik diperlukan daya hidup (daya hidup: seperti perasaan, emosi, dan sebagainya). Paham ini disebut vitalisme. Namun demikian, pada tahun 1826, seorang ahli  kimia dari Jerman, yaitu Frederic Wohler, berhasil mensintesis urea, senyawa yang terdapat dalam urine mamalia. Wohler berhasil membuat urea dari amonium sianat melalui pemanasan. Dan sejak penemuan tersebut, kini telah jutaan senyawa organik berhasil disintesis.

Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan memang membawa peningkatan pemahaman manusia atas berbagai gejala alam. Namun, kemajuan tersebut seharusnya diimbangi dengan kebijakan dalam menyikapinya. Pendekatan rasional saja tidak cukup, dibutuhkan sisi-sisi intelektual lain untuk memahami alam dan kehidupan secara utuh dan menyeluruh. Kearoganan manusia atas kemampuannya menggunakan rasio dapat membawa pada perasaan selalu skeptis dan tidak puas atas kehidupan yang dijalaninya.


Referensi: Purba, M. (2007). KIMIA Untuk SMA Kelas X. Jakarta : Penerbit Erlangga. Pada materi Hidrokarbon Dan Minyak Bumi halaman 203.   

Comments

Popular posts from this blog