Mengapa larutan elektrolit mampu menghantarkan arus listrik? Hal itu pertama kalinya diterangkan oleh Svante August Arrhenius (1859 – 1927) dari Swedia tatkala ia mengemukakan disertasi Ph.D di Universitas Uppsala tahun 1884. Atas penemuan itu, Arrhenius meraih hadiah nobel bidang kimia pada tahun 1903.

            Arrhenius menemukan bahwa zat elektrolit dalam air akan terurai menjadi partikel-pertikel berupa atom atau gugus atom yang bermuatan listrik. Karena secara total larutan tidak bermuatan, maka jumlah muatan positif dalam larutan harus sama dengan muatan negatif.

            Atom atau gugus atom yang bermuatan listrik itu dinamai ion (bahasa Yunani yang berarti “mengembara”, sebab ion bergerak bebas dalam larutan). Ion yang bermuatan positif disebut kation, sedangkan ion yang bermuatan negatif disebut anion (cata = pergi, ana = pulang). Peristiwa terurainya suatu elektrolit menjadi ion dikenal sebagai proses pengionan (ionisasi).

            Adapun zat nonelektrolit tatkala dilarutkan ke dalam air tidak terurai menjadi ion (tidak terionisasi). Dalam larutan, mereka tetap berupa molekul yang tidak bermuatan listrik. Itulah sebabnya larutan nonelektrolit tidak dapat menghantar listrik.

            Zat elektrolit dapat berupa senyawa ionik atau senyawa kovalen. Senyawa ionik sudah tentu merupakan elektrolit, sebab pasti menghasilkan ion tatkala dilarutkan kedalam air. Adapun senyawa kovalen yang merupakan elektrolit hanya terbatas pada asam yang mampu menghasilkan ion H+ dalam air.

            Contoh elektrolit yang berupa senyawa ionik adalah natrium klorida, NaCl. Dalam keadaan padat, NaCl memang sudah tersusun dari ion Na+ dan ion Cl-. Ketika NaCl dilarutkan kedalam air, ion Na+ dan ion Cl- terlepas dari kisi kristalnya, lalu mengalami hidrasi (terikat oleh molekul air). Dalam keadaan terhidrasi, semua ion ini bebas bergerak di seluruh bagian larutan.

            Contoh elektrolit yang berupa senyawa kovalen adalah asam klorida, HCl. Sebelum dilarutkan kedalam air, HCl adalah gas yang tidak mengandung ion. Jadi, HCl murni tidak dapat menghantarkan listrik. Ketika HCl dilarutkan ke dalam air, terjadilah pembentukan ion, yaitu ion H+ dan ion Cl-.

            Jenis-jenis larutan beserta sifatnya sebagai simpulan dari kegiatan di atas dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.1 Pengamatan Sifat Larutan Elektrolit Kuat, Elektrolit Lemah dan Nonelektrolit

Jenis Larutan

Sifat dan Hasil Pengamatan

Contoh Senyawa

Reaksi Ionisasi

Elektrolit kuat

-      terionisasi sempurna

-       menghantarkan arus listrik

-        lampu menyala terang

-       terdapat gelembung gas

 

NaCl, HCl,

NaOH,

H2SO4

NaCl → Na+ + Cl-

NaOH → Na+ + OH-

H2SO4 → 2H+ + SO42-

Elektrolit lemah

-        terionisasi sebagian

-       menghantarkan arus listrik

-       lampu menyala redup

-        terdapat gelembung gas

NH4OH,

 

CH3COOH

 

Contoh lain:

HCN, Al(OH)3

NH4OH → NH4+ + OH-

CH3COOH CH3COO- + H+

 

HCN H+ + CN-

Al(OH)3 Al3++ 3OH-

 

Nonelektrolit

-          tidak ionisasi

-          tidak menghantarkan arus listrik

-        lampu tidak menyala

-        tidak terdapat gelembung gas

C12H22O11, C2H5OH, C6H12O6,

CO(NH2)2

C12H22O11, C2H5OH, C6H12O6, CO(NH2)2


Referensi: 

-       Anshory,  I. 2000.  KIMIA SMU  Kelas II. Jakarta. Penerbit : Erlangga

Comments

Popular posts from this blog