A.  Senyawa Kovalen Polar Dan Non Polar

Kepolaran dalam ikatan kimia adalah suatu keadaan yang disebabkan distribusi (penyebaran) elektron tidak merata atau elektron lebih cenderung tertarik pada salah satu atom. Kepolaran erat kaitannya dengan kelektronegatifan dan bentuk molekul. Suatu senyawa yang terdiri atas unsur – unsur yang berbeda cenderung polar, begitu pun jika senyawa tersebut berbentuk tidak simetris dan tidak linear.

 

 

1. Senyawa Kovalen Polar

 Senyawa kovalen dikatakan polar jika senyawa tersebut memiliki perbedaan keelektronegatifan. Dengan demikian, pada senyawa yang berikatan kovalen terjadi pengutuban muatan. Ikatan kovalen tersebut dinamakan ikatan kovalen polar.
               Ikatan kovalen polar adalah ikatan kovalen yang Pasangan Elektron Ikatannya (PEI) cenderung tertarik ke salah satu atom yang berikatan. Senyawa kovalen polar biasanya terjadi antara atom-atom unsur yang beda keelektronegatifannya besar, mempunyai bentuk molekul asimetris, mempunyai momen dipol (µ= hasil kali jumlah muatan dengan jaraknya) ≠ 0. [1]

  Dalam pembentukan molekul HF, kedua elektron dalam ikatan kovalen digunakan tidak seimbang oleh inti atom H dan inti atom F sehingga terjadi pengutuban atau polarisasi muatan.

                                       


Gambar 3.11 Ikatan Kovalen Polar pada HF

Perbedaan keelektronegatifan atom H dan atom F cukup besar yaitu sekitar 1,9. Perhitungannya adalah sebagai berikut:

H–F

Keelektronegatifan 2,1;4,0
Beda keelektronegatifan = 4,0 – 2,1 = 1,9
µ = d x 1 = 1,91 Debye

Contoh Ikatan Kovalen Polar Lainnya:
1) H2O
    Keelektronegatifan  2,1; 3,5
    Beda keelektronegatifan = 3,5 – 2,1 = 1,4
     µ = d x l = 1,85 Debye





2) NH3
    Keelektronegatifan 2,1; 3,0
    Beda keelektronegatifan = 3,0 – 2,1 = 0,9
    µ = d x l = 1,47 Debye

  


 

Senyawa-senyawa lain yang bersifat kovalen polar dan memiliki perbedaan keelektronegatifan dapat Anda lihat pada tabel berikut.

Tabel 3.8 Perbedaan Keelektronegatifan Senyawa

Senyawa

Perbedaan Keelektronegatifan

HF

1,9

HCl

0,9

HBr

0,7

HI

0,4

Sumber: General Chemistry , 1990

 

Bentuk Molekul yang Mempengaruhi Kepolaran

Dalam suatu molekul poliatomik seperti CCl4, PCl5, BF3, dan BeCl2 terdapat ikatan kovalen polar (dalam ikatan C–Cl, P–Cl, B–F, dan Be–Cl), tetapi molekul-molekul poliatomik tersebut merupakan suatu senyawa kovalen nonpolar. Mengapa demikian?

Pada molekul CCl4 terdapat 4 ikatan kovalen polar antara atom pusat C dan 4 atom Cl. Bentuk molekul dari CCl4 adalah simetris (tidak ada pasangan elektron bebas pada struktur molekul Lewisnya) dan tidak terjadi pengutuban atom atau polarisasi muatan karena pasangan elektron dalam ikatan digunakan secara seimbang di antara atom pusat C dan 4 atom Cl sehingga molekul  CCl4 bersifat            nonpolar.
               Pada ikatan kovalen yang terdiri lebih dari dua unsur, kepolaran senyawanya ditentukan oleh     senyawa            berikut.
1) Jumlah momen dipol, jika jumlah momen dipol = 0, senyawanya bersifat nonpolar. Jika momen dipol tidak sama dengan 0 maka senyawanya bersifat polar. Besarnya momen dipol suatu senyawa  dapat   diketahui         dengan:
µ=dxl
Dimana:
µ =momendipoldalamsatuanDebye(D)
d=muatandalamsatuanelektrostatis(ses)
l = jarak dalam satuan cm




Gambar 3.12 Momen dipol senyawa polar, µ ≠ 0 

2) Bentuk molekul, jika bentuk molekulnya simetris maka senyawanya bersifat nonpolar, sedangkan jika bentuk molekulnya tidak simetris maka senyawanya bersifat polar.



Gambar 3.13 Momen dipol senyawa non polar. µ = 0

 

 

Comments

Popular posts from this blog