Sumber logam Alkali Di Alam
§ Natrium ditemukan sebagai natrium klorida
(NaCl) yang terdapat dalam air laut, dalam bentuk sendawa Chili NaNO3,
trona (Na2CO3.2H2O), boraks (Na2B4O7.10H2O)
dan mirabilit (Na2SO4).
§ Kalium didapat sebagai mineral silvit (KCl)),
mineral karnalit (KCl.MgCl2.6H2O) sendawa (KNO3),
dan feldspar (K2O.Al2O3.3SiO2).
Selain dari kalium juga terdapat dalam air laut.
§ Unsur rubidium dan sesium dihasilkan sebagai hasil
samping proses pengolahan litium dari mineralnya.
Ektraksi Logam Alkali
Logam-logam alkali sangat stabil terhadap pemanasan, sehingga
logam-logam alkali tidak dapat diperoleh dari oksidanya melalui proses
pemanasan. Logam alkali tidak dapat dihasilkan dengan mereduksi oksidanya, hal
ini disebabkan logam-logam alkali merupakan pereduksi yang kuat.
Keberadaan
natrium dan kalium telah dikenali sejak lama, namun untuk mereduksi logam-logam
alkali dalam air tidak dapat dilakukan karena logam-logam alkali dapat bereaksi
dengan air membentuk basa kuat. Pada abad ke-19 H. Davy akhirnya dapat mengisolasi natrium dan kalium
dengan melakukan elektrolisis terhadap lelehan garam KOH dan NaOH. Dengan
metode yang sama Davy berhasil mengisolasi Li dari LiO2. Kemudian Rb
dan Cs ditemukan sebagai unsur baru dengan teknik spektroskopi pada tahun
1860-1861 oleh Bunsen dan Kirchhoff. Sedangkan fransium ditemukan oleh Perey dengan menggunakan teknik radiokimia tahun
1939.
Semua
logam alkali hanya dapat diisolasi dari leburan garam halidanya melalui proses
elektrolisis. Garam-garam halida mempunyai titik lebur yang sangat tinggi, oleh
karena itu umumnya ditambahkan garam halida yang lain untuk menurunkan titik
lebur garam halidanya.
Elektrolisis Litium
Sumber logam litium adalah spodumene (LiAl(SO)3).
Spodumene dipanaskan pada suhu 100 ℃
kemudian ditambah H2SO4 pekat panas sehingga diperoleh Li2SO4.
Campuran yang terbentuk dilarutkan ke dalam air. Larutan Li2SO4
ini kemudian direaksikan dengan Na2CO3. Dari reaksi ini
terbentuk endapan Li2CO3.
Li2SO4
(aq) + Na2CO3(aq) → Li2CO3(s) + Na2SO4 (aq)
Setelah dilakukan pemisahan Li2CO3
yang diperoleh direaksikan dengan HCl sehingga diperoleh garam LiCl.
Li2CO3(s) + 2HCl(aq)
→ 2LiCl +H2O + CO2
Garam LiCl ini yang akan digunakan sebagai
bahan dasar elektrolisis litium. Namun karena titik lebur LiCl yang sangat
tinggi sekitar 600 ℃ maka ditambahkan KCl dengan
perbandingan volume 55% LiCl dan 45% KCl. Penambahan KCl ini bertujuan untuk
menurunkan titik lebur LiCl menjadi 430 ℃. Reaksi
yang terjadi pada proses elektrolisis Li adalah sebagai berikut
Katoda:
Li+ + e → Li
Anoda :
2Cl- → Cl2
+ 2e
Selama elektrolisis berlangsung ion Li+dari
leburan garam klorida akan bergerak menuju katoda. Ketika tiba dikatoda ion-ion
litium akan mengalami reaksi reduksi menjadi padatan Li yang menempel pada
permukaan katoda. Padatan yang terbentuk dapat diambil secara periodik, dicuci
kemudian digunakan untuk proses selanjutnya sesuai keperluan. Sedangkan ion Cl-
akan bergerak menuju anoda yang kemudian direduksi menjadi gas Cl2.
Elektrolisis Natrium
Natrium dapat diperoleh dari elektrolisis
leburan NaCl dengan menambahkan CaCl2 menggunakan downs cell.
Penambahan CaCl2 bertujuan menurunkan titik leleh NaCl dari 801 ℃ menjadi 580 ℃ . Proses ini
dilakukan dalam sel silinder menggunakan anoda dari grafit dan katoda dari besi
atau tembaga. Selama proses elektrolisis berlangsung, ion-ion Na+
bergerak menuju katoda kemudian mengendap dan menempel pada katoda, sedangka
ion Cl- membentuk gas Cl2 pada anoda. Reaksi yang terjadi
pada proses elektrolisis natrium dari lelehan NaCl:
Peleburan NaCl → Na+ + Cl-
Katoda : Na+ + e → Na
Anoda : 2Cl- → Cl2 + 2e
Reaksi elektrolisis : Na+ + Cl- → Na + Cl2
Comments
Post a Comment