Sifat-Sifat
Periodik
Sifat-sifat periodik ialah sifat-sifat yang ada
hubungannya dengan letak unsur pada sistem periodik. Sifat-sifat ini berubah dan
berulang secara periodik, sesuai dengan perubahan nomor atom dan konfigurasi
elektron. Beberapa sifat periodik adalah:
a. jari-jari
atom,
b. energi
ionisasi,
c. keelektronegatifan
d. sifat
logam,
e. kereaktifan,
f. titik
leleh dan titik didih.
1)
Jari-jari Atom
Jari-jari atom ialah jarak dari inti sampai
kulit terluar. Bagi unsur-unsur yang segolongan,
jari-jari atom makin ke bawah makin besar,
sebab jumlah kulit yang dimiliki atom
makin banyak sehingga kulit terluar
makin jauh dari inti.
Unsur-unsur yang seperiode memiliki jumlah kulit yang sama. Akan tetapi, tidaklah berarti
mereka memiliki jari-jari atom yang sama pula. Makin ke kanan letak unsur,
proton dan elektron yang dimiliki makin banyak,
sehingga tarik-menarik inti dengan elektron makin kuat. Akibatnya, elektron-elektron terluar tertarik lebih dekat ke arah inti. Jadi, bagi
unsur-unsur yang seperiode, jari-jari atom
makin ke kanan makin kecil.
Be Li
N C B
O F
Na Al Mg
Cl S P Si
Gambar Kecenderungan Jari-Jari Atom Unsur Seperiode
Jika
suatu atom melepaskan elektron untuk membentuk ion positif (kation), maka
kation ini memiliki jari-jari ion yang lebih
kecil daripada jari-jari atom semula. Hal ini disebabkan lepasnya elektron
terluar, sehingga kulitnya berkurang.
Misalnya, jari-jari ion Na+ lebih kecil daripada jari-jari atom Na,
sebab atom Na mempunyai tiga lapis kulit (2,8,1), sendangkan ion Na+
hanya dua kulit (2,8).
Jika suatu atom menangkap elektron untuk membentuk ion negatif (anion), maka anion ini memiliki jari-jari atom yang lebih besar daripada jari-jari atom
semula. Hal ini disebabkan tolak-menolak antar elektron di kulit terluar,
sehingga ukuran anion yang dihasilkan lebih
besar dari ukuran atom asalnya. Misalnya, jari-jari ion Cl- lebih besar daripada jari-jari atom Cl,
sebab volume ion Cl- lebih besar daripada volume atom Cl.
2)
Energi Ionisasi
Energi ionisasi ialah energi yang diperlukan
untuk melepaskan elektron terluar suatu atom. Energi itu diperlukan untuk
mengalahkan gaya tarik inti terhadap elektron terluar. Jika gaya tarik inti
cukup lemah, tentu energi yang diperlukan cuma sedikit, sehingga elektron
terluar mudah untuk lepas.
energi ionisasi kecil
= mudah melepaskan elektron energi ionisasi besar
= sukar melepaskan elektron
Bagi unsur-unsur yang segolongan,
energi ionisasi makin kebawah makin kecil,
sebab elektron terluar makin jauh dari inti (gaya tarik inti makin lemah),
sehingga elektron terluar makin mudah dilepaskan.
Bagi unsur-unsur yang seperiode,
makin kekanan gaya tarik inti makin kuat, sehingga energi ionisasi pada umumnya
makin kekanan makin besar. Di sini
ada keterangan “pada umumnya”, sebab ternyata tidak selalu demikian. Unsur-unsur golongan IIA memiliki
energi ionisasi yang lebih besar daripada golongan IIIA, dan energi ionisasi
golongan VA lebih besar daripada VIA.
3)
Kelektronegatifan
Kelektronegatifan ialah kemampuan atau
kecenderungan suatu atom untuk menangkap atau menarik elektron dari atom lain.
Keelektronegatifan besar = mudah menangkap
elektron Keelektronegatifan kecil = sukar menangkap
elektron
Bagi unsur-unsur yang segolongan,
keelektronegatifan makin ke bawah
makin kecil, sebab gaya tarik inti makin lemah. Alih-alih menangkap elektron,
unsur-unsur bagian bawah sistem periodik justru cenderung melepaskan elektron!
Bagi unsur-unsur yang seperiode,
keelektronegatifan makim ke kanan makin
besar. Pada golongan VIIIA (gas mulia) tidak mempunyai keelektronegatifan, sebab sudah memiliki
8 elektron terluar (maksimum). Jadi,
keelektronegatifan terbesar pada setiap periode dimiliki oleh golongan VIIA (unsur-unsur halogen).
Konsep keelektronegatifan mula-mula diajukan oleh Linus Carl Pauling (1901-1994) pada
tahun 1932. Ia
menyusun skala keelektronegatifan bagi masing-masing unsur. Harga terbesar
diberikan kepada fluorin (F) yaitu 4,0 dan harga terkecil diberikan fransium
(Fr) yaitu 0,7.
4)
Sifat Logam
Unsur-unsur
logam memperlihatkan sifat-sifat yang spesifik, yaitu mengkilap, menghantarkan
panas dan listrik, dapat
ditempa menjadi lempeng tipis, serta dapat direntang menjadi kawat atau kabel
panjang. Sifat-sifat di atas tidak dimiliki oleh unsur-unsur bukan logam.
Ditinjau dari konfigurasi elektron, unsur-unsur logam cenderung melepaskan elektron (memiliki energi ionisasi yang kecil),
sedangkan unsur-unsur bukan logam
cenderung menangkap elektron (memiliki keelektronegatifan besar). Dengan
demikian, dalam sistem
periodik sifat-sifat logam makin ke bawah
makin bertambah serta makin ke kanan
makin berkurang. Unsur-unsur logam terletak di bagian kiri, dan unsur-unsur
bukan logam di bagian kanan.
Batas logam dan
bukan logam pada sistem periodik
sering digambarkan dengan tangga diagonal bergaris bawah.
Unsur-unsur di daerah perbatasan memperlihatkan sifat
ganda. Berilium
dan aluminium, misalnya, adalah logam-logam yang memiliki beberapa sifat bukan
logam, dan disebut unsur-unsur
amfoter. Di lain pihak, boron dan silikon merupakan unsur bukan
logam yang memiliki beberapa sifat logam, dan sering disebut unsur-unsur metaloid.
5)
Kereaktifan
Reaktif artinya mudah bereaksi. Unsur-unsur logam pada sistem periodik makin ke bawah makin reaktif (makin
mudah bereaksi), sebab makin mudah
melepaskan elektron. Misalnya,
kalium lebih reaktif dari natrium, serta kalsium lebih reaktif dari magnesium.
Sebaliknya, unsur-unsur bukan logam
pada sistem periodik makin ke bawah makin
kurang reaktif (makin sukar bereaksi), sebab makin sukar menangkap elektron. Misalnya, fluorin lebih reaktif daripada
klorin, serta oksigen lebih reaktif daripada belerang.
6)
Titik Leleh dan Titik Didih
Bagi unsur-unsur
logam segolongan, titik leleh dan titik didih makin ke bawah makin rendah. Sebaliknya, bagi unsur-unsur bukan logam segolongan, titik leleh dan
titik didih makin ke bawah makin tinggi.
Misalnya, titik leleh kalium lebih rendah
daripada titik leleh natrium, sendangkan titik didih klorin lebih tinggi daripada titik didih
fluorin.
Gambar Bentuk Sistem Periodik Moderen
Comments
Post a Comment