Sifat-Sifat Unsur Transisi
Unsur-unsur transisi memiliki sifat fisika, sifat kimia,
dan sifat khusus lainnya.
1. Sifat Fisika Unsur Transisi Periode
Empat
Sifat unsur peralihan deret pertama dari Sc sampai Cu adalah mempunyai
titik cair tinggi, daya hantar listrik yang baik, dan kekerasan yang sedang
sampai tinggi. Skandium dan zink berwarna putih, tidak seperti senyawa unsur
lain yang pada umumnya berwarna. Hal ini karena skandium dan zink masing-masing
mempunyai satu macam bilangan oksidasi yaitu +3 dan +2.
Tabel 3.14 Sifat Fisika Unsur-unsur Transisi
|
Sc |
Ti |
V |
Cr |
Mn |
Fe |
Co |
Ni |
Cu |
|
|
Nomor
atom |
21 |
22 |
23 |
24 |
25 |
26 |
27 |
28 |
29 |
|
Konfigurasi
electron |
3d14s2 |
3d24s2 |
3d34s2 |
3d54s2 |
3d64s2 |
3d74s2 |
3d74s2 |
3d84s2 |
3d104s2 |
|
Jari-jari
logam (pm) |
161 |
145 |
132 |
127 |
124 |
124 |
125 |
125 |
128 |
|
Energi
ionisasi pertama (kJmol-1) |
631 |
658 |
650 |
653 |
718 |
759 |
758 |
737 |
740 |
|
Energi
ionisasi kedua(kJmol-1) |
1235 |
1310 |
1414 |
1592 |
1509 |
1561 |
1646 |
1753 |
1950 |
|
Energi
ionisasi ketiga(kJmol-1) |
2389 |
2653 |
2828 |
2987 |
3249 |
2457 |
3232 |
3394 |
3554 |
|
Potensial
elektrode (V) |
-2,08 |
-1,63 |
-1,18 |
-0,91 |
-1,19 |
-0,44 |
-0,28 |
-0,23 |
+0,34 |
|
Bilangan
oksidasi |
3 |
2,3,4 |
2,3,4,5 |
2,3,6 |
2,3,4,7 |
2,3 |
2,3 |
2 |
1,2 |
|
Titik
didih (°C) |
1397 |
1672 |
1710 |
1900 |
1244 |
1530 |
1495 |
1455 |
1083 |
|
Kerapatan
(gcm-3) |
2,09 |
4,49 |
5,96 |
7,20 |
7,20 |
7,86 |
8,90 |
8,91 |
8,92 |
|
Kekerasan |
- |
- |
- |
9,0 |
5,0 |
4,5 |
- |
- |
- |
|
Daya
hantar listrik |
- |
2 |
3 |
10 |
2 |
17 |
24 |
24 |
97 |
2. Kecenderungan Periodik Unsur Transisi
Di antara unsur golongan IIA dan
IIIA terdapat sepuluh kolom unsur-unsur golongan B. Unsur-unsur tersebut
dinamakan unsur transisi. Istilah transisi artinya
peralihan, yaitu peralihan dari blok s
ke blok p. Unsur-unsur transisi didefenisikan
sebagi unsur-unsur yang memiliki subkulit d
atau subkulit f yang terisi sebagian.
Misalnya, tembaga mempunyai konfigurasi elektron[Ar] 4s1 3d10.
Unsur-unsur transisi yang lain ditunjukkan pada gambar 3.22.
Unsur-unsur transisi yang terdapat dalam blok d adalah unsur-unsur yang memiliki
subkulit d yang belum terisi penuh.
Akibatnya, unsur-unsur transisi memiliki beberapa sifat yang khas, yaitu:
·
Semua unur transisi
adalah logam keras dengan titik didih dan titik leleh tinggi.
·
Setiap unsur transisi
memiliki beberapa bilangan oksidasi, kecuali unsur golongan IIB dan IIIB. Misalnya
vanadium, memiliki bilangan oksidasi dari +2 sampai dengan +5.
·
Senyawa unsur transisi
umumnya berwarna dan bersifat paramagnetik. Semua sifat-sifat akibat dari
konfigurasi elektron pada orbital d
belum terisis penuh.
3. Konfigurasi Elektron
Berdasarkan aturan membangun dari Aufbau, pengisian elektron dalam orbital d mulai terjadi setelah elektron
menghuni orbital 4s2 atau setelah atom kalsium, 20Ca :
[Ar] 4s1. Oleh karena itu, unsur-unsur transisi dimulai pada periode
keempat dalam tabel periodik, sesuai dengan bilngan kuantum utama terbesar (4s
3d).
Oleh
karena orbital d maksimum dihuni oleh
sepuluh elektron maka akan terdapat sepuluh unsur pada periode keempat, yaitu
mulai dari Sc dengan konfigurasi elektron [Ar] 3d1 4s2
sampai dengan Zn dengan konfigurasi elektron [Ar] 3d10 4s2.
Konfigurasi elektron unsur-unsur transisi periode keempat dapat dilaihat pada Tabel 3.15.
Tabel 3.15 Konfigurasi Elektron Unsur-Unsur
Transisi Periode Keempat
|
Nomor
Atom |
Lambang
Unsur |
Konfigurasi
Elektron |
Nomor
Golongan Pada
Tabel Periodik |
|
21 |
Sc |
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d1 4s2 |
IIIB |
|
22 |
Ti |
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d2 4s2 |
IVB |
|
23 |
V |
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d3 4s2 |
VB |
|
24 |
Cr |
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d5 4s1 |
VIB |
|
25 |
Mn |
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d5 4s2 |
VIIB |
|
26 |
Fe |
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d6 4s2 |
VIIIB |
|
27 |
Co |
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d7 4s2 |
VIIIB |
|
28 |
Ni |
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d8 4s2 |
VIIIB |
|
29 |
Cu |
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d10 4s1 |
IB |
|
30 |
Zn |
1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d10 4s2 |
IIB |
Menurut aturan Aufbau, konfigurasi
elektron krom adalah [Ar] 3d4 4s2, tetapi faktanya bukan
demikian melainkan [Ar] 3d5 4s1. Demikian juga pada
konfigurasi elektron atom tembaga, yaitu [Ar] 3d10 4s1.
Hal ini disebabkan oleh kestabilan subkulit d
yang terisi penuh atau setengah penuh.
4. Titik Didih Dan Titik Leleh
Berdasarkan Tabel 3.14, kenaikan titik leleh mencapai maksimum pada golongan VB
(vanadium) dan VIB (kromium). Hal itu disebabkan oleh kekuatan ikatan antaratom
logam, khususnya bergantung pada jumlah elektron yang tidak berpasangan di
subkulit d. Pada awal periode unsur
transisi, terdapat satu elektron pada orbital d yang tidak berpasangan. Jumlah elektron pada orbital d yang tidak berpasangan meningkat
sampai dengan golongan VIB dan VIIIB, setelah itu elektron pada orbital d mulai berpasangan sehingga titik didih
dan titik leleh turun
4. Jari-Jari Atom
Jari-jari atom menentukan
sifat-sifat unsur. Pada Tabel 3.14,
tampak bahwa jari-jari atom menurun secara drastis dari skandium (1,44 Ã…)
hingga vanadium (1,22 Ã…), kemudian berkurang secara perlahan. Penurunan ini
akibat dari kenaikan muatan inti yang menarik elektron valensi ebih kuat.
Pada
periode yang sama, dari kiri ke kanan jumlah proton bertambah, sedangkan kulit
valensi tetap. Akibat bertambahnya jumlah proton, daya tarik muatan inti
terhadap elektron valensi bertambah kuat sehingga ukuran atau jari-jari atom
semakin kecil.
5. Sifat Logam
Semua unsur transisi merupakan unsur-unsur logam. Kulit
terluar dari unsur-unsur transisi hanya mengandung satu atau dua elektron pada
orbital 4s sehingga mudah melepaskan elektron pada kulit terluarnya. Sifat
logam dari unsur-unsur transisi lebih kuat jika dibandingkan dengan sifat logam
dari golongan utama. Hal ini disebabkan pada unsur-unsur transisi terdapat
lebih banyak elektron bebas dalam orbital d
yang tidak berpasangan.
Mengapa
jumlah elektron yang belum berpasangan dapat dijadikan ukuran kekuatan logam?
Semakin banyak elektronbebas dalam suatu atom logam memungkinkan ikatan antar
atom semakin kuat sehingga sifat logam dari unsur itu juga semakin kuat.
Pengaruh
nyata dari kekuatan ikatan antar atom pada logam transisi tercermin dari sifat
kekerasan tinggi, kerapatan tinggi, titik didih dan titik leleh juga tinggi,
serta sifat hantaran listrik yang lebih baik.
C. Sifat Kimia
Unsur
transisi mempunyai sifat khas yang berbeda dengan unsur lain. Adapun sifat
khasnya antara lain, sebagai berikut.
1. Mempunyai Berbagai Macam Bilangan
Oksidasi
Perhatikan konfigurasi elektron dan bilangan oksidasi
unsur transisi deret pertama pada Tabel
3.14 dan Tabel 3.15
Tabel 3.16 Konfigurasi Elektron Unsur Transisi
Deret Pertama
|
Unsur |
Konfigurasi Elektron |
|
Sc |
[Ar] 3d1 4s2 |
|
Ti |
[Ar] 3d2 4s2 |
|
V |
[Ar] 3d2 4s2 |
|
Cr |
[Ar] 3d5 4s2 |
|
Mn |
[Ar] 3d5 4s2 |
|
Fe |
[Ar] 3d6 4s2 |
|
Co |
[Ar] 3d7 4s2 |
|
Ni |
[Ar] 3d8 4s2 |
|
Cu |
[Ar] 3d10 4s1 |
|
Zn |
[Ar] 3d10 4s2 |
Unsur transisi memiliki elektron pada orbital d. Energi elektron dalam orbital d hampir sama besar. Untuk mencapai
kestabilan, unsur-unsur ini membentuk ion dengan cara melepaskan elektron dalam
jumlah yang berbeda. Oleh karena itu unsur-unsur ini mempunyai dua macam
bilangan oksidasi atau lebih dalam senyawanya.
Umumnya,
unsur-unsur transisi periode keempat memiliki biloks lebih dari satu. Hal ini
disebabkan tingkat energi orbital s
dan orbital d tidak berbeda jauh
sehingga memungkinkan elektron-elektron pada kedua orbital itu digunakan
melalui pembentukan orbital hibrida sp3d2.
Jika
kita lihat Tabel 3.14, biloks
maksimum sama dengan jumlah elektron valensi dalam orbital s dan orbital d atau sama
dengan nomor golongan. Jadi, titanium (IVB) memiliki bilkos maksimum +4,
vanadium (VB), kromium (VIB), dan mangan
(VIIB) memiliki biloks maksimum berturut-turut +5, +6, dan +7.
Tabel 3.17 Bilangan Oksidasi Unsur Transisi
Sc Ti
V Cr
Mn Fe
Co Ni
Cu Zn
(+2) (+2)
+2 +2
+2 +2 +2 +2
+1 +2
(+3)
+3 +3 (+3) +3
+3 +3 (+2)
+4 +4 (+4)
+4 (+4)
(+4)
+5
+6 (+6) (+6)
+7
2. Banyak Senyawaannya Bersifat
Paramagnetik
Sifat magnetik suatu zat apakah terdiri atas atom, ion
atau molekul ditentukan oleh struktur elektronnya. Interaksi antara zat dan
medan magnet dibedakan menjadi dua yaitu diamagnetik dan paramegnetik. Zat
paramagnetik tertarik oleh medan magnet, sedangkan zat diamagnetik tidak
tertarik oleh medan magnet.
Banyak
unsur transisi dan senyawaannya bersifat paramagnetik. Hal ini disebabkan
adanya elektron yang tidak berpasangan. Perkiraan momen magnetik yang disebabkan oleh spin elektron
tak berpasangan ditentukan dengan persamaan berikut.
Keterangan:
µ = momen magnetik dalam Bohr Magneton
n = jumlah elektron yang tak berpasangan
1 Bohr magneton (1 B.M) = 9,273 erg/gauss.
Perhatikan harga momen magnetik pada tabel berikut
Tabel 3.18 Harga Momen Magnetik
|
Ion |
Jumlah elektron tak
berpasangan |
Momen menurut
perhitungan BM |
Momen menurut pengamatan BM |
|
|
V4+ |
1 |
1,73 |
1,7 – 1,8 |
|
|
Cu2+ |
1 |
1,73 |
1,7 – 2,2 |
|
|
V3+ |
2 |
2,83 |
2,6 – 2,8 |
|
|
Ni2+ |
2 |
2,83 |
2,8 – 4,0 |
|
|
Cr3+ |
3 |
3,87 |
3,8 |
|
|
Co2+ |
3 |
3,87 |
4,1 – 5,2 |
|
|
Fe3+ |
4 |
4,90 |
5,1 – 5,5 |
|
|
Co3+ |
4 |
4,90 |
5,4 |
|
|
Mn2+ |
5 |
5,92 |
5,9 |
|
|
Fe3+ |
5 |
5,92 |
5,9 |
|
Makin banyak jumlah elektron yang tidak berpasangan,
makin besar momen magnetiknya sehingga makin besar sifat paramagentik. Hubungan
ini dapat kita buat grafik seperti pada Gambar
3.23.
Berdasarkan grafik ini, dapat kita lihat bahwa dalam satu
periode dari kiri ke kanan hingga pada ion Mn2+ momen magnetiknya
makin besar, selanjutnya makin berkurang secara teratur. Begitu juga dengan
sifat paramagnetiknya.
Contoh Soal 3.4
Di antara unsur transisi periode keempat, manakah yang
memiliki sifat magnet?
Penyelesaian:
Suatu logam akan bersifat magnet jika memiliki elektron
tidak berpasangan. Semakin banyak jumlah elektron yang tidak berpasangan,
semakin kuat sifat magnetnya berdasarkan penjelasan tersebut unsur-unsur
transisi periode keempat yang memiliki sifat magnet adalah: Ti, V, Cr, Mn, Fe,
Co, Ni. Kekuatan magnet dari unsur transisi adalah: Cr > Mn > Fe > V
> Co
3. Ion Unsur Transisi Berwarna
Berbeda dengan unsur-unsur alkali
dan alkali tanah, pada umumnya ion unsur transisi membentuk senyawa berwarna.
Beberapa di antaranya dapat dilihat pada Tabel
3.19.
Tabel 3.19 Warna Ion Unsur Transisi Deret
Pertama
Suatu benda atau zat dikatakan berwarna jika ada cahaya
yang jatuh kepadanya, khususnya cahaya tampak. Cahaya tampak adalah cahaya yang
memiliki frekuensi berkisar di antara cahay inframerah dan ultraviolet. Cahaya
tampak terdiri atas cahay merah-kuning-hijau-biru-ungu.
|
Gambar 3.23 Spektrum elektromagnetik Cahaya
tampak adalah salah satu bagian dari radiasi elektromagnetik. |
Ion-ion dengan tingkat oksidasi yang berbeda mempunyai warna yang berbeda. Misalnya, perhatikan warna ion unsur mangan pada Tabel 3.19 di atas. Terjadinya warna pada ion unsur transisi karena ion unsur transisi mempunyai elektron yang tidak berpasangan pada subkulit 3d dan elektron-elektron itu terpecah dengan tingkat energi yang berbeda. Elektron-elektron itu tereksitasi dari tingkat energi yang lebih rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi dengan menyerap energi. Perubahan tingkat energi ini setara dengan energi cahaya tampak. Adapun pada ion zink tidak berwarna, karena orbital d sudah penuh elekron sehingga tidak terjadi perpindahan energi pada orbital d.
Comments
Post a Comment