LAJU REAKSI

 

 

 

            Pada saat duduk di kelas X, Anda telah mengenal reaksi kimia. Reaksi kimia dapat terjadi dengan kelajuan bervariasi. Ada reaksi kimia yang berlangsung cepat, tetapi ada juga reaksi kimia yang berlangsung lambat. Contoh reaksi kimia yang berlangsung cepat adalah bom meledak, sedangkan reaksi yang lambat adalah perkaratan besi. Ternyata, proses perkaratan besi dapat dipercepat dan dapat diperlambat. Perkaratan besi akan terjadi dengan cepat jika besi direndam dengan air, sedangkan perlambatan perkaratan besi dapat dilakukan dengan pengecatan. Jika demikian, apakah yang menyebabkan laju reaksi dapat berubah?

Laju reaksi didefinisikan sebagai besarnya perubahan konsentrasi reaktan atau produk per satuan waktu. Konsentrasi biasanya dinyatakan dalam mol per liter. Satuan waktu dapat sekon (detik), menit, jam, atau hari bergantung reaksi. Reaksi kimia merupakan proses perubahan reaktan menjadi produk. Oleh karena itu, proses itu memerlukan waktu tertentu. Tentu saja makin lama reaksi berlangsung, jumlah reaktan akan makin berkurang dan jumlah produk makin bertambah. Dengan demikian, laju reaksi dapat diungkapkan sebagai laju penambahan konsentrasi salah satu reaktan atau laju penambahan konsentrasi salah satu produk.

Dalam bidang reaksi kimia, pengetahuan mengenai laju reaksi sangat penting dalam penentuan kondisi yang diperlukan untuk membuat suatu produk secara cepat dan ekonomis. Agar suatu reaksi kimia berlangsung, partikel-partikel (atom atau molekul) dari zat yang bereaksi harus bertumbukan satu dengan yang lain. Akan tetapi, tidak semua tumbukan antarpartikel itu efektif (membuahkan reaksi). Ketika dua partikel saling mendekat, elektron terluar dari kedua pertikel itu menimbulkan gaya tolak-menolak dan memperlambat gerakan partikel. Jika kedua partikel itu memiliki sedikit energi kinetik, maka mereka akan berhenti sebelum cepat bersentuhan. Sebaliknya, jika kedua partikel itu memiliki cukup banyak energi kinetik, maka elektron terluar saling menembus dan berpenetrasi yang mengakibatkan perombakan ikatan; ada ikatan yang putus dan ada  ikatan yang terbentuk. Jadi, suatu reaksi akan terjadi apabila partikel yang bertumbukan mempunyai energi kinetik yang cukup.

Energi kinetik minimum yang harus dimiliki atau yang harus diberikan kepada partikel agar tumbukan mereka menghasilkan reaksi disebut energi pengaktifan (energi aktivasi), dengan lambang Ea. Makin kecil (rendah) harga Ea, makin mudah suatu reaksi terjadi, sehingga makin cepat reaksi itu berlangsung. 

Pengukuran laju reaksi pertama kali dilakukan oleh Wilhelmy pada tahun 1850. Pada waktu itu, Wilhelmy melakukan pengukuran laju inversi sukrosa. Berdasarkan pengukuran itu, Wilhelmy menyimpulkan bahwa laju reaksi tiap waktu berbanding lurus dengan konsentrasi sukrosa.

 

 

 

A.  Teori Tumbukan

Menurut teori tumbukan suatu reaksi terjadi karena partikel-partikel zat yang bereaksi saling bertumbukan. Selama partikel-partikel dalam zat belum bertumbukan maka tidak akan terjadi reaksi. Kecepatan reaksi yang dihasilkan oleh zat yang bereaksi tersebut sama dengan jumlah tumbukan yang terjadi persatuan waktu. Namun demikian tidak semua tumbukan akan menghasilkan reaksi, karena tumbukan yang terjadi harus mempunyai energi yang cukup untuk memutuskan ikatan-ikatan pada zat yang bereaksi. Teori tumbukan ini ternyata memiliki beberapa kelemahan antara lain sebagai berikut.

a)        Dari perhitungan ternyata jumlah tumbukan antar partikel yang diperoleh dari percobaan lebih kecil daripada berdasarkan teori. Hal tersebut berarti tidak semua hasil tumbukan antar partikel zat-zat yang bereaksi tersebut menghasilkan reaksi, hanya tumbukan   yang efektif yang dapat menghasilkan reaksi.

b)        Tidak semua tumbukan antar partikel menghasilkan reaksi, karena adanya energi tertentu yang harus dilewati yaitu energi aktivasi. Reaksi dapat terjadi jika energi tumbukan tersebut lebih besar daripada energi aktivasinya.

c)        Jumlah tumbukan yang dihasilkan molekul yang mempunyai struktur ruang yang sederhana.

Teori tumbukan kemudian diperbaharui dengan teori keadaan transisi atau teori laju reaksi absolut. Menurut teori ini sebelum suatu molekul menuju ke  keadaan akhir (produk) harus melewati suatu keadaan yang dinamakan keadaan transisi.

 

                   A                                 B                              C

             keadaan                        keadaan                      keadaan

               awal                            transisi                         akhir 

Comments

Popular posts from this blog