6. Bencana
Hidrologi
Bencana
alam, hasil dari perubahan iklim, meningkatkan badai dan cuaca ekstrem. Hanya
beberapa kota di dunia yang mempunyai sistem penanggulangan yang cukup baik
untuk bencana-bencana tersebut. Beberapa contoh dari bencana alam hidrologi
adalah:
·
Banjir
Di Indonesia, banjir banyak disebabkan
oleh hujan yang berlangsung dalam jangka waktu lama, bisa berjam-jam bahkan
berhari-hari. Sehingga air yang ditampung (tidak hanya di sungai saja namun
juga tempat penampungan air lain seperti danau atau rawa-rawa) menjadi bertambah
hingga tidak mampu untuk ditampung. Akibatnya air tersebut akan keluar bahkan
menyebar hingga ke beberapa daerah yang berada dekat dengan sumber penampungan
air, terutama bagi yang tinggal dekat dengan aliran sungai.
Salah satunya adalah banjir bandang. Banjir bandang disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi di dataran
permukaan rendah. Sehingga air yang berada di daerah tersebut sudah mencapai
titik jenuh hingga tidak dapat diserap lagi oleh air. Akibatnya air dalam tanah
keluar dan datang secara tiba-tiba dan dalam waktu singkat, namun kerugian yang
dihasilkan sangatlah besar.
·
Tanah Longsor
Tanah longsor sering disebabkan oleh
curah hujan yang tinggi. Tanah longsor biasa terjadi di daerah dataran tinggi terutama lereng
bukit atau gunung dan saat bersaman hujan deras juga terjadi. Jika hujan terus
berlangsung terus menerus, tanah di sekitar lereng akan menjadi lunak dan
tergerus oleh limpahan aliran air hujan. Akibatnya tanah tidak mampu lagi
bertahan dari air hujan ditambah adanya gaya gravitasi tanah menjadi turun atau
longsor.
·
Tsunami
Salah satu bencana alam yang patut diwaspadai bagi negara
yang berada di sekitar pertemuan lempeng bumi yaitu tsunami.
Tsunami terjadi akibat adanya pergerakan lempeng bumi yang berada di dasar
laut. Akibatnya pergerakan lempeng tersebut terjadilah gempa bumi hingga air
laut yang berada di atasnya ikut bergerak hingga gerakan air tersebut mencapai
daratan. Peristiwa tersebut pernah terjadi di Aceh pada tanggal 26 Desember
2004 dan menewaskan ribuan korban jiwa. Tsunami juga disebabkan oleh adanya
letusan gunung berapi seperti yang terjadi di Selat Sunda pada tanggal 22
Desember 2018. Saat itu Gunung Anak Krakatau sedang erupsi dan beberapa bagian
gunung longsor masuk ke laut akibatnya
muncullah gelombang hingga berubah menjadi tsunami saat mendekati daratan.
·
Genangan
Air
Berbeda dengan banjir, genangan air diakibatkan oleh
adanya penyumbatan atau masalah pada saluran drainase. Sehingga saat musim
hujan tiba atau curah hujan tinggi, air hujan tidak dapat dialirkan dengan baik
melalui saluran yang telah ada. Akibatnya air menjadi tergenang di beberapa
tempat seperti jalanan bahkan bisa sampai ke perumahan warga. Perbedaan lain
dengan banjir yaitu genangan air akan lebih cepat surut atau kurang dari 1 x 24
jam, jika lebih dari itu dapat menjadi tanda bahwa banjir akan terjadi.
·
Letusan
Limnik
Letusan
limnik terjadi akibat meletusnya gas karbon dioksida secara mendadak dari dasar
danau hingga akhirnya membentuk awan gas
yang dapat membahayakan makhluk hidup di sekitar danau. Gas karbon dioksida
tersebut berasal dari aktivitas vulkanik ataupun dekomposisi materi organik
yang ada di dasar danau. Semakin dalam danau maka semakin tinggi tekanan di
dasar danau dan semakin banyak pula karbon dioksida yang larut di air. jika air
danau sudah jenuh oleh gas karbon dioksida, ditambah adanya gempa bumi,
aktivitas vulkanik atau ledakan membuat air yang jenuh tersebut bergerak naik
ke atas. Di atas tekanan sangat rendah dan tidak dapat menahan gas karbon dioksida
sehingga muncullah gelembung-gelembung di permukaan danau secara bersamaan gas
karbon dioksida ikut meledak.
Comments
Post a Comment