Perkembangan Teori Atom
1. Teori Atom Dalton
Istilah atom sebenarnya
telah dikemukakan oleh filsuf Yunani yang bernama Democritus
(460-370 SM). Menurut Democritus, materi tidak dapat dibelah terus-menerus.
Maksudnya, pembelahan materi sampai pada suatu tingkat tidak dapat dibagi lagi.
Bagian yang tidak dapat dibagi lagi disebut atom. Kata
ini berasal dari bahasa Yunani atomos; a = tidak dan tomos = terbagi.
Pada tahun 1803, John
Dalton (1776-1844) mengemukakan postulat mengenai atom. Isi postulat Dalton
adalah sebagai berikut.
a.
Materi tersusun atas sejumlah partikel kecil yang tidak dapat dibagi
lagi. Partikel itu disebut atom.
b. Atom-atom suatu unsur identik dalam segala
hal, baik volume, bentuk, maupun massanya dan berbeda dengan atom-atom penyusun
unsur lain.
c. Dalam reaksi kimia, terjadi penggabungan atau
pemisahan atom. Selanjutnya, atom-atom itu ditata ulang sehingga membentuk komposisi
tertentu.
d. Atom dapat bergabung dengan atom lain untuk
membentuk suatu molekul dengan perbandingan bulat dan sederhana.
Postulat Dalton pertama mempertegas pendapat
Democritus yang menyatakan jika suatu materi terus dibagi, suatu saat akan
sampai pada suatu partikel yang tidak dapat dibagi lagi. Partikel itu disebut atom.
Postulat kedua merupakan gagasan baru dari Dalton.
Menurut Dalton, atom merupakan bagian terkecil dari suatu unsur yang masih
memiliki sifat unsur itu.
Postulat ketiga
didasarkan pada hukum kekekalan masa dari Lavoisier, yaitu massa sebelum dan sesudah reaksi
adalah sama. Oleh karena itu, tidak ada atom yang hilang atau tercipta dalam
suatu reaksi kimia. Perubahan yang terjadi hanyalah berupa pemisahan dan
penggabungan antaratom.
Postulat keempat
merupakan konsep molekul, yaitu antaratom dapat bergabung membentuk suatu
molekul. Atom yang bergabung dapat sejenis atau tidak sejenis. Penggabungan
atom-atom sejenis membentuk molekul unsur. Penggabungan atom tak sejenis itu
membentuk molekul senyawa.
2. Teori Atom Thomson
Teorinya didasarkan atas eksperimennya yang
berhasil menemukan elektron. Thomson merasa perlu membuat teori atom karena
teori atom yang dikemukakan oleh Dalton tidak mencantumkan muatan listrik.
Menurut Thomson, atom
harus mengandung elektron. Karena atom bersifat netral maka dalam atom harus
mengandung muatan positif dan negatif dalam jumlah yang sama. Oleh karena itu,
menurut teori atom Thomson, atom terdiri atas materi bermuatan positif yang
didalamnya tersebar elektron seperti roti kismis.
Teori atom Thomson
tidak dapat bertahan lama. Hal itu disebabkan teori atom Thomson tidak
menjelaskan adanya inti atom. Inti atom dikemukakan oleh Rutherford.
3. Teori Atom Rutherford
Pada tahun 1909, Ernest Rutherford dan dua muridnya yang bernama Hans Geiger dan Ernest Marsden melakukan serangkaian eksperimen untuk
mengetahui struktur atom. Eksperimen itu mereka lakukan dengan menembakkan partikel alfa berenergi tinggi pada
lempeng logam tipis. Mula-mula logam yang digunakan adalah emas. Dari
eksperimen itu, mereka menemukan bahwa sebagian besar partikel alfa diteruskan
tanpa mengalami pembelokan yang berarti. Seolah-olah partikel alfa melewati
ruang kosong. Namun, jika diperhatikan secara saksama, ternyata ada sebagian
kecil partikel alfa yang dibelokan. Bahkan, ada yang dipantulkan.
Gambar Rutherford dan percobaannya
Adanya partikel yang
dipantulkan itu sangat mengejutkan Rutherford. Oleh karena itu, Rutherford
menyimpulkan bahwa partikel alfa pasti menabrak sesuatu yang padat dalam atom. Berdasarkan
hasil percobaannya itu, Rutherford mengajukan teori atom. Menurut Rutherford,
massa atom bermuatan positif dan terkonsentrasi pada bagian pusat atom. Bagian
itu disebut inti atom. Dengan kata lain, inti atom adalah bagian
kecil dari atom yang pejal dan bermuatan positif.
Secara sederhana, teori
atom Rutherford dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Sebagian besar atom terdiri atas ruang hampa.
Hal itu didasarkan pada hasil eksperimennya, yaitu sebagian besar partikel alfa
diteruskan ketika dilewatkan pada lempeng emas tipis.
b. Partikel yang mengalami pembelokan adalah
partikel alfa yang mendekati inti atom. Hal itu disebabkan keduanya bermuatan
positif.
c. Partikel yang dipantulkan adalah partikel
alfa yang menabrak inti atom.
Karena tiap atom bermuatan netral, muatan
positif pada inti atom harus diimbangi oleh muatan negatif. Muatan negatif
disebut elektron. Nama elektron merupakan hasil eksperimen
yang dilakukan oleh Thomson pada tahun 1897. Elektron beredar mengelilingi inti
atom pada jarak yang relatif jauh. Jarak inti atom dengan garis edar elektron
paling luar disebut jari-jari atom. Jari-jari atom jauh lebih besar daripada
jari-jari intinya. Besar jari-jari atom ±10-8 cm, sendangkan jari-jari inti atom ± 10-13 cm
Dengan ditemukannya
inti atom, gugurlah teori atom Thomson. Menurut teori atom Rutherford, atom
terdiri atas inti atom bermuatan positif dikelilingi oleh elektron bermuatan
negatif. Sebagian atom terdiri atas ruang kosong dan massanya terpusat pada
inti. Jumlah muatan positif sama dengan muatan negatif karena atom bersifat
netral.
Sebagaimana teori
sebelumnya, teori atom Rutherford juga tidak mampu menjelaskan gejala alam,
terutama penjelasan mengenai elektron yang tetap pada orbitnya. Padahal,
menurut Maxwell suatu partikel yang bermuatan dan bergerak melingkar akan memancarkan energi dalam bentuk radiasi.
Jika teori atom Rutherford benar, suatu saat elektron akan jatuh keinti. Dengan
kata lain, kedudukan elektron menurut teori atom Rutherford tidak stabil. Hal
itu bertentangan dengan kenyataan. Kenyataannya, atom bersifat stabil.
4. Teori Atom Bohr
Kelemahan teori atom Rutherford dalam menjelaskan
spektrum garis atom hidrogen berhasil diperbaiki oleh ahli fisika Denmark yang
bernama Niels Bohr, pada tahun 1913. Berdasarkan teori atom
Rutherford dan teori kuantum Planck, Bohr mengajukan postulat tentang model
atom sebagai berikut.
a. Elektron-elektron pada atom mengelilingi inti
pada lintasan tertentu yang disebut lintasan stasioner. Pada lintasan ini, elektron tidak menyerap
atau melepaskan energi dan elektron mempunyai sudut yang besarnya merupakan
kelipatan dari
b. Elektron akan melepaskan energi (berupa
foton) jika elektron berpindah dari tingkat energi yang lebih tinggi ke tingkat
energi yang lebih rendah (dari lintasan luar kelintasan dalam) dan elektron
akan menyerap energi ketika berpindah dari tingkat energi yang lebih rendah ke
tingkat energi yang lebih tinggi (dari lintasan dalam kelintasan luar).
Comments
Post a Comment