Isomer

            Senyawa karbon di alam sangat banyak jumlahnya. Salah satu penyebabnya adalah karena senyawa karbon menunjukkan gejala keisomeran, suatu sifat yang jarang dijumpai pada senyawa anorganik.

            Suatu senyawa anorganik dapat segera dikenali dengan melihat rumus molekulnya. Misalnya senyawa dengan rumus molekul H2SO4 sudah pasti asam sulfat sebab tidak ada senyawa selain asam sulfat yang memiliki rumus molekul H2SO4.

Tidaklah demikian halnya dengan senyawa organik. Beberapa jenis senyawa organik dapat memiliki rumus molekul yang persis sama! Misalnya, ada dua buah senyawa hidrokarbon yang sama-sama memiliki rumus molekul  C4H10. Mereka baru dapat dibedakan satu sama lain dengan melihat rumus struktur masing-masing.

 

CH3 – CH2 – CH2 – CH3                       CH3 – CH – CH3

                                                                             

                                                                             CH3

 

Itulah sebabnya dalam kimia organik penulisan rumus struktur lebih sering kita lakukan daripada penulisan rumus molekul.

Jons Jacob Berzelius pada tahun 1830 menamakan gejala itu sebagai isomer (bahasa Yunani: iso = sama; meros = bagian). Dua senyawa organik dapat mengandung komposisi atom yang sama. Akan tetapi, mereka mempunyai sifat yang berbeda sebab susunan dan ikatan atom-atom dalam masing-masing senyawa tidaklah sama, ibarat empat batang korek api yang dapat disusun untuk membentuk huruf  E atau  huruf M. Pengertian dari isomer adalah senyawa-senyawa yang mempunyai rumus molekul sama (jumlah atom-atomnya sama), tetapi rumus struktur berbeda (cara terikat atom-atomnya berbeda). Adapun peristiwa terjadinya isomer disebut isomeri dan isomerisme.

 

 

Proses pengubahan suatu senyawa hidrokarbon atau senyawa organik lainnya menjadi isomer disebut isomerisasi

 

 

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog