2. Penemuan Proton
Proton
merupakan partikel bermuatan positif yang ditemukan oleh Eugen
Goldstein melalui percobaan sinar terusan. Goldstein membuat
lubang-lubang pada katoda dalam tabung Crookes bertekanan rendah yang berisi
gas hidrogen. Setelah elektrode tabung Crookes dihubungkan dengan sumber
tegangan tinggi, maka di belakang katoda terbentuk seberkas sinar yang disebut sinar terusan atau sinar positif.
Menurut
Goldstein, ketika sinar katoda bergerak menuju anoda dalam tabung Crookes, maka
partikel-partikel sinar katoda tersebut akan menumbuk gas hidrogen di dalam
tabung. Tumbukan tersebut akan menyebabkan elektron atom hidrogen menjadi
terlepas, sehingga atom hidrogen menjadi bermuatan positif dalam bentuk ion
hidrogen (H+). Ion ini bergerak menuju katoda yang melalui lubang,
sehingga menumbuk dinding kaca di belakang katoda.
Ion hidrogen tersebut kemudian disebut sebagai proton dan sebuah proton
mempunyai massa 1,67 x 10-27 kg dan muatan sebesar +1,6 x 10-19
C.
Beberapa sifat sinar katode adalah sebagai berikut.
a.
Dapat memutar kincir
sehingga merupakan radiasi partikel.
b.
Dapat dibelokkan medan
listrik atau magnet menuju ke kutub negatif sehingga sinar anode bermutan
positif.
c.
Ukuran partikel sinar
anode bergantung pada jenis gas dalam tabung. Ukuran terkecil terjadi jika dalam
tabung menggunakan gas hidrogen. Selanjutnya, partikel sinar anode itu disebut
proton. Massa proton adalah 1 sma = 1,67 x 10-24 g.
d.
Muatan proton adalah +1
atau 1,6 x 10-19 C. Berdasarkan hasil eksperimen, muatan dan massa
partikel sinar anode selalu merupakan kelipatan bulat dari massa dan muatan
proton. Oleh karena itu, semua partikel diduga terdiri atas proton.
e.
Makin besar massa
partikel, sinar anodenya makin sukar dibelokkan.
3. Penemuan
Neutron
Penemuan
neutron tidak terlepas dari percobaan Geiger, Marsden,
dan Ernest Rutherford, yaitu
percobaan dengan menembakkan alfa (partikel bermuatan positif) pada lempeng
emas tipis. Pada percobaan tersebut sebagian besar partikel alfa diteruskan,
dan sebagian kecil lainnya dibelokkan dan dipantulkan.
Menurut
Rutherford, partikel alfa tersebut diteruskan karena mengenai ruang kosong pada
atom-atom emas, sehingga sebagian besar atom merupakan ruang kosong. Sementara
itu, partikel alfa yang dibelokkan adalah partikel alfa yang menyinggung inti
dan partikel alfa yang dipantulkan merupakan partikel alfa yang menumbuk inti
secara tepat dan mengalami gaya tolak (gaya Coulomb). Hasil eksperimen menunjukkan bahwa kira-kira setengah
dari massa inti atom berasal dari massa proton. Jika demikian, harus ada
partikel lain yang tidak bermuatan yang bermassa hampir sama dengan massa
proton.
Rutherford
berhasil mengukur (menghitung) massa inti atom yang kira-kira dua kali dari
massa proton dalam inti. Sehingga, menurut Rutherford harus ada partikel di
dalam inti atom dan partikel tersebut tidak bermuatan. Baru pada tahun 1932, J. Chadwick menemukan neutron dari penembakan berilium
menggunakan partikel-partikel alfa, dan kemudian neutron ini diketahui sebagai
partikel penyusun inti atom. Neutron merupakan partikel tak bermuatan yang
mempunyai massa kira-kira 1,6 x 10-27 kg.
Proton dan neutron
terdapat dalam inti di pusat atom, sedangkan elektron mengisi ruang di
sekitar inti.
Comments
Post a Comment