BAB I
SENYAWA
HIDROKARBON DAN MINYAK BUMI
1.1. Senyawa Hidrokarbon
A. Identifikasi Atom
C dan H
Pernahkan
Anda memperhatikan kayu atau daun yang dibakar? Kayu atau daun yang dibakar akan
menghasilkan arang atau karbon sehingga kayu atau daun mengandung karbon.
Senyawa yang terdiri atas karbon dan hidrogen, dengan atau tanpa oksigen,
nitrogen, atau unsur lain dinamakan senyawa karbon atau senyawa organik. Disebut
senyawa organik karena pada awalnya senyawa tersebut diperoleh dari makhluk
hidup. Ada anggapan bahwa pembentukan senyawa organik memerlukan daya hidup.
Anggapan itu biasa disebut vitalisme. Sebaliknya, senyawa selain senyawa karbon disebut
senyawa anorganik senyawa zat tidak hidup.
Menjelang
akhir abad ke-18, para ahli kimia membagi senyawa-senyawa menjadi dua kelompok:
a. senyawa organik, yang
dihasilkan oleh makhluk hidup (organisme).
b. senyawa
anorganik, yang dihasilkan oleh benda mati (kulit bumi atau
udara).
Istilah
organik dan anorganik ini diusulkan oleh Karl Wihelm Scheele (1742 – 1786)
dari Swedia pada tahun 1780. Pada tahun1807 Jons Jacob Berzelius (1779
– 1848) mengeluarkan teori bahwa senyawa-senyawa organik hanya dapat dibuat di
dalam tubuh makhluk hidup dengan bantuan “daya hidup” ( vis vitalis dalam bahasa Latin), sehingga senyawa organik tidak
mungkin dapat dibuat dari senyawa anorganik di laboratorium. Oleh karena
Berzelius dipandang sebagai ahli kimia terbesar pada saat itu, teorinya dianut
oleh para ilmuwan lainnya tanpa ragu-ragu. Ternyata teori “daya hidup” itu
tidak bertahan lama, dan akhirnya ditumbangkan oleh muridnya sendiri Berzelius , Friedrich Wohler
(1800 – 1882) dari Jerman. Pada tahun 1827, Wohler mereaksikan perak sianat
dengan ammonium klorida untuk membuat ammonium sianat.
Ketika Wohler menguapkan pelarut air
untuk memperoleh kristal padat ammonium sianat, ternyata pemanasan yang terlalu
lama menyebabkan ammonium sianat berubah menjadi urea!
Penemuan Wohler itu menggemparkan
dunia ilmu kimia, sebab urea (senyawa organik) dapat dibuat dari ammonium
sianat (senyawa anorganik), atau sebagaimana bunyi surat Wohler kepada
Berzelius tertanggal 22 Febuari 1828: “Saya
mampu membuat urea dalam tabung reaksi kimia tanpa bantuan ginjal hewan atau
manusia”. Sejak saat itu banyak
senyawa organik yang diproduksi di laboratorium, bahkan para ahli kimia mampu
mensintesis senyawa – senyawa organik yang baru.
Dari beberapa analisis diketahui
bahwa seluruh senyawa organik mengandung unsur (C). Maka pada tahun 1859, Friederich August Kekule (1829 –
1896) dalam bukunya Lehrbruch der chemie,
mendefenisikan cabang ilmu kimia organik, yaitu cabang ilmu kimia yang khusus
mempelajari senyawa – senyawa karbon.
Ada dua hal yang menyebabkan senyawa
– senyawa karbon harus dibahas secara terpisah ari senyawa – senyawa unsur
lainnya.
Pertama,
senyawa-senyawa karbon paling erat dengan kehidupan manusia. Zat-zat penyusun
tubuh kita serta makanan yang kita perlukan demi kelansungan hidup kebanyakan
adalah senyawa – senyawa karbon: karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan
sebagainya. Kebutuhan primer manusia selain makanan adalah pakaian dan
perumahan, yang melibatkan senyawa – senyawa karbon: kapas, nilon, tetoron,
kayu, plastik, cat, dan sebagainya. Kehidupan manusia modern semakin sentosa
berkat adanya senyawa – senyawa karbon: kertas dan tinta, sabun dan parfum,
bensin dan ban kendaraan, dan sebagainya. Ketika ditimpa sakit, kita sangat
memerlukan senyawa – senyawa karbon; aspirin, antibiotik, dan sebagainya.
Kedua,
senyawa –senyawa karbon banyak jenisnya. Kini diperkirakan terdapat lebih dari
dua juta jenis senyawa – senyawa organik, sedangkan senyawa anorganik hanya
sekitar seratus ribu jenis! Untuk mempelajari senyawa – senyawa karbon secara
sistematis, sudah diperlukan cabang ilmu yang tersendiri.
Walaupun demikian, penggunaan istilah
senyawa organik hanya untuk menyatakan senyawa karbon tetap digunakan. Namun,
penggolongan itu bukan berdasarkan adanya atau tidak adanya atom karbon,
melainkan berdasarkan sifat yang dimiliki oleh suatu senyawa. Hal itu terbukti dengan
adanya senyawa karbon yang digolongkan dalam senyawa anorganik. Contoh senyawa
itu adalah karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), karbonat
(CO32-), dan sianida (CN-)
Tabel 1.1 Perbedaan
Senyawa Karbon Organik dan Anorganik
|
Senyawa
Karbon Organik |
Senyawa
Karbon Anorganik |
|
·
berasal dari makhluk hidup ·
titik didih dan titik leleh rendah ·
tidak tahan terhadap pemanasan ·
tidak dapat menghantarkan panas atau
listrik ·
dapat membentuk rantai karbon ·
umumnya tidak larut dalam air, tetapi larut dalam
pelarut organik, misalnya eter. |
·
berasal dari benda tak hidup ·
titik didih dan titik leleh tinggi ·
tahan terhadap pemanasan ·
pada umumnya dapat menghantarkan panas
atau listrik ·
tidak dapat membentuk rantai karbon ·
umumnya larut dalam pelarut dalam air |
Unsur
penyusun senyawa karbon yang terpenting adalah karbon (C), hidrogen (H),
oksigen (O), nitrogen (N), sulfur (S), dan fosforus (P). Senyawa yang terdiri
atas karbon dan hidrogen disebut senyawa hidrokarbon. Senyawa yang terdiri atas
unsur karbon dan oksigen disebut karbondioksida.
Adanya unsur hidrogen, karbon, dan oksigen dalam senyawa
karbon dapat ditunjukan dengan memanaskan senyawa karbon. Contoh senyawa karbon
adalah gula pasir. Pada pemanasan gula pasir, oksigen akan mengoksidasi hidrogen
dan karbon membentuk uap air dan gas karbon dioksida.
Contoh Soal 1.1
1. Suatu
senyawa organik dibakar sempurna. Bagaimanakah caranya membuktikan adanya unsur
C, H, dan O dalam senyawa itu?
Penyelesaian:
Adanya unsur C
dibuktikan dengan senyawa CO2 dan unsur C serta O dibuktikan dengan
adanya senyawa H2O yang dihasilkan pada pembakaran.
2. Senyawa
karbon mengandung 43% unsur C dan 11% unsur H. Berapakah banyaknya unsur O
dalam senyawa itu?
Penyelesaian:
Banyaknya unsur C dan H = 43% + 11% = 54%
Banyaknya
unsur O = 100% - 54% + 46%
Latihan
1.1
1. Mengapa
senyawa karbon banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari?
2. Apa
yang dimaksud dengan senyawa hidrokarbon?
3. Sebuah
sampel senyawa hidrokarbon bernama propana (C3H8) dalam
bentuk gas dibakar sempurna menghasilkan CO2 dan uap air. Tuliskan
reaksi pembakaran gas propana!
4. Apakah
yang dimaksud dengan senyawa organik?
Apakah perbedaan antara senyawa karbon organik dan senyawa karbon anorganik?
A. Kekhasan
Atom Karbon
Sebelum membahas
senyawa karbon, sebaiknya kita bahas dahulu kekhasan atom karbon. Atom karbon
memiliki empat elektron valensi sesuai dengan golongannya. Untuk mencapai
konfigurasi gas mulia, karbon membentuk empat buah ikatan kovalen. Jumlah
ikatan kovalen yang dimiliki karbon merupakan jumlah yang cukup banyak. Unsur
golongan lain, misalnya nitrogen (golongan VA) dan boron (golongan IIIA),
memiliki tiga buah ikatan kovalen. Karbon dapat berikatan dengan berbagai macam
senyawa nonlogam, misalnya hidrogen
(H), oksigen (O), dan nitrogen (N).
Atom karbon
tidak hanya membentuk ikatan tunggal,
tetapi juga ikatan rangkap dua dan ikatan rangkap tiga. Bahkan antaratom
karbon dapat membentuk ikatan, baik dalam bentuk rantai lurus, bercabang,
maupun lingkar (cincin). Kemampuan karbon tersebut menyebabkan jumlah senyawa
yang tersusun atas karbon sangat banyak. Saat ini, lebih dari 13 juta senyawa karbon telah diketahui.
Makanan yang kita makan, pakaian, barang-barang rumah tangga, dan produk
industri sebagian besar dari senyawa karbon.
Atom karbon
terletak ditengah-tengah pada bagian atas sistem periodik. Konfigurasi elektron
atom karbon adalah sebagai berikut.
6C :
2 4
Dengan memilih empat butir elektron di kulit terluar,
atom karbon memerlukan empat butir
elektron lagi agar susunan elektronnya stabil sesuai dengan kaidah Oktet.
Itulah sebabnya atom karbon mampu membentuk empat
buah ikatan kovalen dengan atom-atom lain. Kita katakan bahwa atom
karbon bervalensi empat.
Kestabilan
dalam rantai karbon disebabkan oleh dua hal, yaitu sebagai berikut.
1. Semua
elektron terluar atom karbon digunakan ketika membentuk ikatan kovalen dengan
atom lain.
2. Dengan
hanya memiliki dua lapis kulit, elektron terluar atom karbon cukup dekat dengan inti atom sehingga
gaya tarik inti terhadap elektron cukup kuat untuk membentuk rantai karbon
sampai tidak mudah putus.
Sebagai
perbandingan, marilah kita tinjau “tetangga” atom karbon dalam sistem periodik,
yaitu boron, nitrogen, dan silikon.
Boron dan
nitrogen, meskipun memiliki dua kulit, masing-masing kekurangan dan kelebihan
elektron untuk dapat memiliki sifat seperti karbon. Adapun silikon, meskipun
memiliki empat elektron terluar, jarak antara elektron terluar dengan inti atom
cukup jenuh sehingga tidak mampu
membuat rantai silikon yang stabil.
Dengan demikian,
hanya atom karbon yang mampu membentuk rantai panjang, dengan komposisi dan
posisi yang beraneka ragam. Tidaklah aneh jika senyawa-senyawa karbon tidak
terhingga jenisnya.
untuk bisa memahaminya ikutin ppt alkena berikut
https://docs.google.com/presentation/d/15_RVwP_7-WccDuISvitegeyPD6Kq_ZVJ/edit?usp=sharing&ouid=100751280233782521893&rtpof=true&sd=true
Comments
Post a Comment