B. Hakikat Ilmu Kimia
Ilmu kimia merupakan salah satu daripada ilmu pengetahuan alam yang melibatkan aktivitas ilmiah (pengamatan, percobaan, dan teori). Jauh sebelumnya peradaban-peradaban tertua umat manusia di Mesir, Mesopotamia, Tiongkok, India dan Yunani telah mengenal apa yang disebut “reaksi kimia”, yaitu perubahan suatu materi menjadi materi yang lain. Masyarakat di zaman purba telah mampu mengolah logam-logam dari bijihnya, mengawetkan makanan dan jenazah, membuat gelas dan keramik, serta meramu obat-obatan dan zat warna.
Kimia yang berlandaskan aktivitas ilmiah (pengamatan, percobaan, dan teori) dilahirkan oleh para ilmuwan Arab dan Persia pada abad ke-8. Salah seorang bapak ilmu kimia yang terkemuka adalah Jabir Ibn Hayyan (700 – 778), yang lebih dikenal di Eropa dengan nama Latinnya, Geber. Ilmu itu diberi nama Al-kimiya (bahasa Arab) yang berarti perubahan materi. Dari kata al-kimiya inilah segala bangsa dimuka bumi ini meminjam istilah: alchemi (Latin), chemistry (Inggris), chimie (Perancis), chemie (Jerman), chemica (Italia), dan kimia (Indonesia)
Para ilmuwan Arab dan Persia pada
abad-abad pertengahan melakukan eksperimen-eksperimen untuk mensintesis zat-zat
baru, bukan hanya sekedar berfilsafat seperti ahli-ahli pikir Yunani. Tujuan
berbagai eksperimen itu pada mulanya untuk membuat emas dari besi atau timah. Kenyataannya,
para ilmuwan itu menemukan zat-zat baru yang lebih berharga daripada emas,
seperti alkohol, boraks, kamfer, soda, sabun, dan asam-asam mineral. Penemuan
asam-asam mineral, terutama asam sulfat, merupakan revolusi besar dalam
eksperimen ilmu kimia. Asam ini jauh lebih kuat daripada asam cuka yang dikenal
saat itu, sehingga banyak zat yang dapat diuraikan tanpa suhu tinggi dan waktu
yang lama. Bahkan sampai sekarang asam sulfat tetap merupakan zat yang sangat
vital dalam industri kimia.
Ilmu kimia juga
berkaitan erat dengan materi. Istilah itu tidak asing dalam kehidupan kita
sehari-hari. Misal sebongkah batu adalah materi, karena ia merupakan sesuatu
yang dapat digenggam dalam telapak tangan. Kita merasakan ukuran dan beratnya.
Tatkala batu itu kita lemparkan kita mengetahui bahwa kontraksi otot diperlukan
agar batu itu cepat. Batu itu sudah tentu mempunyai volume. Kita tidak mungkin meletakan dua bongkah batu
ditempat yang sama pada saat yang sama. Berdasarkan uraian di atas, dapat
disimpulkan, defenisi materi sebagai berikut
Materi adalah segala sesuatu yang mempunyai massa dan menempati
ruang (mempunyai volume).
Segala benda di alam
semesta, termasuk tubuh kita, merupakan materi. Istilah itu diambil dari bahasa
Latin, mater, yang berarti “ibu”. Materi
dapat sekeras baja, selunak air dalam kolam, atau tidak kelihatan sebagaimana
oksigen di udara. Dengan kata lain, materi terdapat dalam tiga macam wujud:
padat (solid), cair (liquid), dan gas.
Perlu diperhatikan
massa tidak sama dengan berat. Massa adalah ukuran bertahannya suatu benda
terhadap perubahan kecepatan. Kita lebih mudah mendorong sepeda motor (yang
masanya kecil) daripada truk bermuatan penuh. Lemparan batu yang besar terasa
lebih sakit kepada tubuh kita daripada lemparan batu yang kecil. Berat adalah gaya yang menyatakan besarnya tarikan
gravitasi benda yang bermassa. Berat suatu benda sangat bergantung pada
gravitasi. Seorang astronot yang memiliki berat 60 kg di bumi akan memiliki berat
10 kg di bulan (dapat melompat-lompat seperti katak), sedangkan di ruang
angkasa ia tidak mempunyai berat (dapat melayang seperti balon tanpa jatuh ke
lantai pesawat). Sebaliknya, massa suatu benda tidak bergantung pada gravitasi.
Sang astronot tersebut memiliki massa yang tetap dan tidak pernah berubah baik
di bumi, di bulan, maupun di ruang angkasa.
Kita dapat mengenal
suatu materi dan membedakannya dari materi-materi yang lain berdasarkan
berbagai ciri khas yang disebut sifat-sifat. Sebagai contoh, kita dapat
membedakan air dengan bensin berdasarkan bau kedua cairan itu dengan memasukan
korek api yang menyala kedalam masing-masing cairan itu. Bensin akan
menghidupkan api, sedangkan air justru mematikan api. Demikian pula jika
sepotong logam yang mengkilap dan tertarik oleh magnet, lalu benda itu berkarat
setelah direndam dalam air beberapa hari, maka kita dapat berkesimpulan bahwa
logam itu adalah besi.
Sifat-sifat suatu
materi dapat dikelompokkan menjadi sifat
ekstensif dan sifat intensif. Sifat ekstensif adalah sifat yang
bergantung pada bentuk, ukuran, dan jumlah zat. Massa dan volume merupakan
dua sifat ekstensif yang banyak dikemukakan dalam ilmu-ilmu pengetahuan alam. Adapun
sifat intensif adalah sifat yang
tidak ditentukan oleh bentuk, ukuran, dan jumlah zat. Cincin dan gelang yang sama-sama terbuat dari
emas akan memperlihatkan sifat intensif yang sama: warnanya kuning mengkilap,
tidak berkarat, dan memiliki berat jenis yang tertentu.
Sifat intensif suatu
materi dapat dikelompokkan lebih lanjut menjadi sifat fisis/fisika dan sifat
kimia. Berikut ini penjelasan lebih lanjut tentang sifat fisis/fisika dan sifat
kimia materi suatu zat serta perubahan materi.
Comments
Post a Comment